IMAM SUPRIADI UNTUK INDONESIA

31 Mei 2012

Profil Raden Bratakesawa: Antara Fakta dan Opini Kristen

PENDAHULUAN
Raden Bratakesawa, seorang tokoh muslim di Jawa, selama ini banyak disalahpahami  orang. Beberapa cendekiawan Kristen, misalnya, menggambarkan pribadinya sebagai tokoh kebatinan. Dari deskripsi manipulatif inilah kesalahpahaman itu berakar. Padahal Bratakesawa adalah seorang muslim, bahkan seorang dai. Hal ini terungkap dari testimoni dan kiprahnya dalam membangun kehidupan rohani masyarakat muslim di Jawa melalui tulisan-tulisan berbobot yang dihasilkannya.
Harun Hadiwijono – doktor ilmu teologi, pendeta, dan penulis sejumlah buku tentang Kristen – memposisikan Bratakesawa masuk ke dalam jajaran tokoh Kebatinan. Ia membahas sosok dan ajaran Bratakesawa ke dalam salah satu bagian dari bukunya ”Kebatinan dan Injil”.  Berpatokan pada penilaian Imam Supardi bahwa karya Bratakesawa ”berlainan sekali dengan tulisan-tulisan tentang kebatinan yang lain”, Hadiwijono menyimpulkan bahwa Bratakesawa merupakan tokoh kebatinan dan ajarannya merupakan doktrin kebatinan.[1]
Bambang Noorsena, Tokoh Kristen Orthodoks Syria (KOS), dalam buku ”Menyongsong Sang Ratu Adil: Menyongsong Sang Ratu Adil” menempatkan ”Serat Kuntji Swarga” karya Bratakesawa sebagai salah satu literatur kebatinan Jawa.[2]Karya tulis Bambang Noorsena ini kurang mengetengahkan model pembahasan yang tertib dan argumentatif. Untuk sebuah tulisan yang berusaha mengungkap relasi antara Kekristenan dan Kejawen, karya ini justru gagal mendefinisikan makna ”kebatinan” maupun ”kejawen” itu sendiri. Kegagalan terminologis ini selanjutnya secara signifikan berpengaruh terhadap proses seleksi dan deskripsi terhadap entitas yang diidentifikasi sebagai ”kebatinan” atau ”kejawen”. Diantara konsekuensi pengunaan model ini, Bambang Noorsena sering menganggap bahwa sosok Nabi Isa dalam literatur Jawa mengacu pada Yesus dalam Kekristenan dan menjadi justifikasi bagi teorinya tentang keberadaan perjumpaan antara entitas Kristen dan Jawa, meskipun sebenarnya Nabi Isa yang dimaksud lahir dari konsepsi Islam.[3]
Pandangan yang memposisikan Bratakesawa sebagai tokoh kebatinan seperti di atas, secara umum tidak memberikan garis batas yang tegas terhadap terminologi ”kebatinan” dan yang di luar itu. Bangunan argumentasinya hanya didasarkan pada karya Bratakesawa dalam kuantitas yang terbatas. Harun Hadiwijono mendasarkan pandangannya berdasarkan dua karya Bratakesawa yaitu ”Serat Kuntji Swarga” dan ”Wirid I.T.M.I.”. Sedangkan Bambang Noorsena hanya pada satu karya Bratakesawa yaitu ”Serat Kuntji Swarga”.
Kekuatan argumentasi yang dibangun dengan sedikit ”dalil” sangat jarang akan menghasilkan sebuah pandangan yang memiliki kebenaran secara meyakinkan. Apalagi dalam kasus ini, baik ”Serat Kuntji Swarga” maupun ”Wirid I.T.M.I” sejak awal justru menunjukkan diri sebagai literatur  keislaman, bukannya ”kebatinan”.  Kedua buku itu saja telah menunjukkan warna keislaman yang kental dari pribadi Bratakesawa. Bahasa yang digunakan oleh kedua buku tersebut juga cukup sederhana sehingga mudah dipahami dan pada titik tertentu seharusnya tidak menimbulkan kesalahpahaman.
PEMIKIRAN BRATAKESAWA
Bratakesawa lahir sekitar tahun 1898 M.[4] Nama sebenarnya adalah Gatoet Sastrodiharjo. Ia mulai karernya di Klaten sebagai sekertaris kedua Insulinde Surakarta tahun 1919 dan komisaris SH Surakarta tahun 1920. selama bertugas di Klaten, Bratakesawa banyak melakukan interaksi berbagai kelompok pergerakan maupun individu. Salah satu tokoh pergerakan juga pimpinan sebuah kelompok yaitu Mangunatmaja sebagai pimpinan Sarekat Abangan sekaligus pimpinan SI Delanggu. Namun dalam bukunya “Falsafah Siti Jenar”,  dia mengatakan tidak terlalu dekat maupun akrab, bahkan pengetahuannya tentang Sarekat Abangan bukan dari Mangunatmaja tetapi dari beberapa keluarga yang bergabung ke Sarekat Abangan. Selama pertemuannya dengan pimpinan Sarekat Abangan tersebut, tidak pernah membahas masalah Sarekat Abangan maupun ajarannya. Topik pembicaraan selalu masalah “politik”, bukan ilmu.
Tetapi setelah Bratakesawa pindah ke Yogyakarta tahun 1922, dan bekerja di majalah “Panggugah”yang di bina oleh R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Beliau dikunjungi Mangunatmaja sebanyak dua sampai tiga kali. Tetapi beliau tidak terpengaruh sedikitpun dengan ajaran Sarekat Abangan yang saat itu membaur dengan SI Merah. Ini bisa kita lihat dari cerita beliau pada saat mengetahui ada pertemuan  di daerah Gandalayu Yogyakarta, dirumah salah satu pemimpin SI Merah sebanyak kurang lebih 25 orang. Ringkasnya demikian: “ Para hadirin semua, saya persilahkan melihat ini”, kata sang guru sambil menyalakan korek api, jres ; setelah menyala lalu di tiup mati pet. “ Cobalah anda merenungkan, nyala api dari korek api tadi dimana, terutama setelah ditiup.? Sekarang jangan ragu dan jangan pula percaya omongan orang lain yang aneh-aneh……..ya ibarat nyala korek api itulah keadaan kehidupan manusia ituKetika belum dititahkan (lahir) seperti nyala korek api yang belum dinyalakan. Setelah lahir ke dunia, ya seperti nyala korek api yang dinyalakan tadi. Setelah mati ? ibarat nyala api setelah di tiup angin  selesai”. Mereka yang menerima wejangan itu itu nampak senang sekali. Namun Bratakesawa tidak terpengaruh wejangan semacam itu. Ia hanya termenung, “Apa mungkin para sarjana dan cendikiawan yang saling mengejar ilmu serta menyingkirkan diri dari perbuatan dosa itu bodoh-bodoh semua ?”.[5]
Menurut cerita tersebut dapat kita simpulkan bahwa Bratakesawa belum terpengaruh murid-murid Natarata maupun ajarannya. Sehingga pada saat beliau menulis ulang Serat Siti Jenar dengan judul Falsafah Siti Jenar yang diterbitkan oleh yayasan Penerbit Joyoboyo, dapat kita jadi penafsiran yang lebih obyektif di karenakan tingkat pemahaman Bratakesawa dengan Natarata hampir sama yaitu masih berpegang teguh pada ajaran Islam. Ini dipertegas juga oleh Hasanu Simon dalam bukunya Misteri Syekh Siti Jenar yang mengatakan bahwa dalam buku Falsafah Siti Jenar, Bratakesawa menunjukkan keteguhannya dalam mengimani Islam secara benar.[6]
I’TIKAD BRATAKESAWA
 Terkait banyaknya kesalahpahaman terhadap sosok dan i’tikad pribadinya terkait substansi Serat “Kuntji Swarga” dan “Wirid I.T.M.I”, sebenarnya Bratakesawa telah menyadarinya sejak awal. Pembaca tulisan-tulisannya belum semuanya memiliki dasar pemikiran yang jelas. Dalam bahasa Bratakesawa, dereng sangu paham warni-warni ingkang minangka gegaraning panimbang (belum memiliki bekal pemahaman terhadap bermacam-macam pemikiran sebagai kerangka dalam mempertimbangkan). Sehingga sebagian pembaca ini melakukan kekeliruan sebab hanya berpegang pada satu bentuk pemahaman yang belum pernah diperbandingkan dengan pemahaman lainnya (sisip sembiripun lajeng nisih, namung ngencengi salah satunggaling paham, ingkang dereng nate katanding-tanding).[7] Adanya kesalahpahaman terhadap ajarannya inilah yang memotivasi Bratakesawa untuk menjelaskan i’tikad dirinya melalui Serat “Bajanul Chaliq[8]sebagai seorang muslim yang berusaha memegang teguh iman.[9]
Secara umum pemikiran Bratakesawa cenderung mudah untuk dilacak. Mantan wartawan ini termasuk seorang penulis yang produktif menelurkan sejumlah karya.Serat Bajanul Chaliq (baca: bayanul khaliq) merupakan salah satu buku yang mengungkapkan “keyakinan” Islam dari Bratakesawa. Buku ini sengaja ditulis oleh Bratakesawa sebagai bacaan pembanding terhadap Serat Bajanullah (baca: bayanullah) karya Raden Pandji Natarata.[10] Isi dari Serat Bajanul Chaliq ini merupakan wujud tekadnya sebagai seorang muslim yang beriman. Terungkap dalam Bajanul Chaliq sebagai berikut:
 “Iktikad kula ingkang kula sumantakaken wonten ing Serat “Bajanul Chaliq” punika boten sanes kajawi iktikad kula satunggaling tiyang Islamingkang kasandhangan iman. Jalaran saking punika, sanajan ingkang kula sarasehaken punika prakawisipun tiyang sajagad boten pilih agama, ananging pamanggih kula punika migunakaken wawaton ingkang dados cecepenganipun muslim tuwin mukmin.[11]
(Iktikad yang saya bicarakan dalam Serat “Bajanul Chaliq” ini tidak lain adalah iktikad saya sebagai penganut Islam yang memiliki iman. Oleh karena itu, walaupun apa yang saya bicarakan ini merupakan permasalahan orang sedunia tanpa memandang agama, tetapi pendapat saya tersebut menggunakan peraturan yang menjadi pedoman bagimuslim dan mukmin).
 Bratakesawa menjelaskan bahwa muslim adalah orang yang memeluk Agama Islam atau Agama Nabi Muhammad (muslim punika tegesipun tiyang ingkang ngrasuk agama Islam utawi agama Muhammad). Adapun pedoman (paugeran) menjadi muslim, menurut Bratakesawa adalah dengan menjalankan Rukun Islam sebagai berikut:[12]
  1. Ngucapaken kalimah sahadat: La ilaha illallah (ora ana sesembahan kajaba Allah),sldj. (= Mengucapkan kalimat syahadat: La ilaha illallah (Tiada sesembahan kecuali Allah), dan seterusnya).
  2. Nindakaken salat gangsal wekdal, tuwin sanes-sanesipun ingkang nama salat wajib (= Melaksanakan ibadah shalat wajib lima waktu, dan lain-lainnya yang dinamakan shalat wajib).
  3. Ambayar jakat miturut pranatan (= Membayar zakat menurut aturan)
  4. Nglampahi siyam sawulan saben wulan Ramelan (= melaksanakan ibadah siyam selama sebulan setiap bulan Ramadhan)
  5. Kesah Haji dateng Betullah, menawi kuwaos (= pergi haji ke Baitullah jika mampu).
Selanjutnya Bratakesawa menjelaskan bahwa mukmin adalah orang yang memiliki iman atau kepercayaan (mukmin punika tegesipun tiyang ingkang kasandangan iman (kapercayaan)). Adapun rukun iman dijelaskan oleh Bratakesawa sebagai berikut:[13]
  1. Percaya wontenipun Allah ingkang nitahaken langit-langit lan bumi saisinipun sadaya (= percaya adanya Allah yang memerintah langit-langit dan bumi seisinya)
  2. Percaya wontenipun malaekat-malaekating Allah (=percaya adanya malaikat-malaikat Allah)
  3. Percaya wontenipun kitab-kitabing Allah (=percaya adanya kitab-kitab Allah)
  4. Percaya wontenipun para rasul utusaning Allah (=percaya adanya para Rasul utusan Allah)
  5. Percaya wontenipun dinten kiyamat inggih dinten patangening roh-roh saking kubur (=percaya adanya hari kiyamat yaitu hari dibangkitkannya roh-roh dari kubur)
  6. Percaya wontenipun takdir awon lan takdir sae, tumrap satunggal-tunggaling titah (=percaya adanya takdir buruk dan takdir baik, bagi setiap makhluk)
Selanjutnya Bratakesawa menceritakan pengalaman pribadinya dalam menjalankanRukun Islam dan Rukun Iman. Ia telah melakukan upaya maksimal untuk menjalankan tuntunan agama yang dianutnya. Meskipun demikian ia juga mengakui adanya “takdir” yang membuat dirinya belum bisa melaksanakan ibadah haji. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:
Kula matur prasaja, pangriptanipun Serat “Bayanul Khaliq” anggenipun ngaken muslim lan mukmin punika boten namung aken-aken utawi lelamisan kemawon.
Istilahipun sapunika, Islam kula boten namung Islam “statistiek” kemawon, sayektosipun ugi netepi rukun-rukunipun, kajawi kesah haji ingkang dereng, amargi dereng kuwaos.
Iman kula ugi netepi rukun-rukunipun, malah percaya kula terus ing sanubari, boten namung tiru-tiru kemawon.
Dados saupami wonten saderek ingkang sanes muslim lan sanes mukmin, kapareng maos serat “Bayanul Khaliq” punika, mugi sampun cuwa ing penggalih, manawi boten cocog kaliyan iktikad kula.[14]
 (Saya berkata jujur, pengarang Serat “Bayanul Khaliq” pengakuannya sebagai muslim dan mukmin itu bukan hanya mengaku-aku atau pemerah bibir belaka.
Istilah sekarang, keislaman saya bukan hanya Islam “statistik” saja, sejatinya juga menetapi rukun-rukun, kecuali naik haji karena belum mampu.
Iman saya juga menetapi rukun-rukunnya, malah percaya hingga dalam sanubari tidak sekedar meniru-niru belaka).
Tentang keyakinan hidupnya, Bratakesawa menceritakan proses dirinya hingga mengenal Islam. Pengenalan terhadap Islam tersebut melalui proses yang panjang. Pengalaman banyak berguru dan membaca buku telah menempa pribadinya untuk lebih dekat terhadap ajaran Tauhid. Pada sekitar 1920-an Bratakesawa telah banyak membaca buku-buku tentang kebatinan, bahkan menjadi salah satu anggota Perhimpunan Theosofi dan menjadi pendengar ceramah-ceramah para “gembong” theosof. Namun persentuhan dengan ajaran kebatinan dan theosofi tidak mampu memuaskan “dunia batin” dalam dirinya.[15] Bratakesawa tidak tanggung-tanggung, ia melakukan serangkaian kajian terhadap sejumlah kitab suci agama lain sebelumnya. Hasil dari proses yang demikian, mengantarkan Bratakesawa mantab memilih Islam. Serat Bajanul Chaliq” mengungkapkan sebagai berikut:
 “Kula punika waunipun tiyang Islam “statistiek” ingkang babar pisan boten sinau dateng hukum lan rukuning agama Islam, dados boten wonten bedanipun kaliyan tiyang ingkang boten gadhah agama. Anggen kula lajeng ngantepi agama Islam, punika sareng sampun sepuh, sasampunipun tuwuk anggen kula maguru-maguru, maos serat-serat wirid, suluk, falsafah lan tashawwuf, punapa dene kitab-kitab agama warni-warni.[16]
(Saya ini sebelumnya adalah penganut Islam “statistik” yang sama sekali tidak mempelajari hukum dan rukun Islam, jadi tidak ada bedanya dengan manusia yang tidak beragama. Adapun kemantapan saya terhadap Islam, ini terjadi setelah usia tua, setelah kenyang berguru, membaca kitab-kitab wirid, suluk, falsafah, dan tasawwuf, juga membaca kitab-kitab dari bermacam-macam agama).
Al QURAN DAN OPINI KRISTEN
Dalam usahanya untuk menyiarkan Islam kepada masyarakat Jawa, tidak jarang Bratakesawa melakukan perbandingan antara Al Quran dengan kitab suci agama lain. Hal ini dimungkinkan karena sebelum memutuskan untuk beragama dengan benar, guru orang Jawa ini telah mempelajari kitab suci sejumlah agama. Dari pendalaman terhadap sejumlah kitab inilah, ia kemudian mantab memilih Islam sebagai agama ageman.[17]
Dalam buku “Wirid I. T. M. I. : Iman Tauhid Ma’rifat Islam”, Bratakesawa telah berusaha menjelaskan tentang adanya sejumlah faham yang berusaha menolak keberadaan Allah (Atheist). Bratakesawa juga menjelaskan hakikat keyakinan kaum naturalist yaitu manusia yang memiliki pemahaman bahwa penguasa tertinggi alam semesta hakikatnya adalah alam. Kedua paham ini, menurut Bratakesawa adalah pemahaman dari kaum yang kafir yaitu kaum yang tidak mendapatkan cahaya petunjuk. Secara gamblang Bratakesawa memberikan keterangan bagaimana proses kekafiran kaum naturalist terjadi. Menurutnya kekafiran kaum naturalist ini merupakan bentuk penyimpangan pemikiran. Mereka berusaha mengungkap tentang rahasia kehidupan maupun penciptaan, namun karena tidak mendapatkan cahaya petunjuk maka proses pencarian tersebut hanya bersifat “meraba-raba” dan berhenti pada proses memahami kenampakan luar  dari alam raya saja.[18]
Bratakesawa menganggap bahwa kaum naturalist mungkin saja telah mengakses Bibel terutama dalam kitab Genesis (Kejadian). Kitab yang diakui sebagai Taurat oleh Yahudi dan Kristen ini menceritakan bagaimana peran “Tuhan” dalam proses “penciptaan” alam semesta. Hanya saja, menurut Bratakesawa, substansi kitab Kejadian tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan mencapai pengenalan terhadap Allah sebab tidak mampu menunjukkan tentang sifat-sifat ketuhanan yang bisa memuaskan mereka.[19]
Terkait kitab-kitab selain Al Quran, guru Jawa ini berpandangan bahwa kitab-kitab tersebut, termasuk Bibel, hanya berwujud babad yang bercerita tentang sejarah Rasul, “pertemuan” dengan Tuhan, dan aspek pewahyuan serta proses penyebaran ajarannya saja. Kitab-kitab tersebut umumnya tidak memberikan informasi yang memadai tentang sifat-sifat Tuhan, kecuali sebagai zat luar biasa yang tidak setiap hamba mengetahui. Namun, menurut Bratakesawa, Tuhan dalam kitab-kitab tersebut selalu digambarkan sebagai zat yang memiliki tubuh material, sebagaimana halnya makhluk ciptaan. Hal ini diungkapkan Bratakesawa sebagai berikut:
 “Andene kitab-kitabe Allah kang sadurunge Qur’an iku, pancen, isine pada awujud babad kang mung nyritakake  sajarahe (asal-usule) Rasul, lelampahane nalika “dipanggihi” Pangeran lan kaparingan dawuh (wahyu), apadene lelampahane liya-liyane bab anggone nyiyarake agama. Ora nyritakake bab sipat-sipating Pangeran, malah yen nyritakake Pangeran iku kaya-kaya ana blegere, nanging bleger luar biasa, ora saben wong weruh.”[20]
 (Adapun kitab-kitab Allah sebelum Al Quran, memang, isinya berwujudbabad yang hanya bercerita tentang sejarah (asal usul) Rasul, kisah ketika “ditemui” Tuhan dan mendapatkan wahyu, juga kisah lainnya dalam penyiaran agama. Tidak menceritakan tentang sifat-sifat Tuhan, malah jika bercerita tentang Tuhan digambarkan seolah memiliki wujud material, tetapi wujud luar biasa yang tidak setiap orang mengetahui).
Berbeda dengan Al Quran, kitab suci umat Islam ini, tidak berwujud babadsebagaimana kitab-kitab lainnya. Al Quran memuat perintah-perintah Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w untuk disampaikan kepada umatnya. Perintah-perintah tersebut juga telah disertai dengan informasi mengenai sifat-sifat Allah. Bratakesawa mengungkap hal tersebut sebagai berikut:
 “Hla Qur’an ora babad kaya mangkono iku. Sawutuhe Qur’an kang kandele 30 juz utawa 114 surat (bab) iku mligi ngemot dawuh-dawuhing Pangeran kang ditampa dening Nabi Muhammad s.a.w. Dawuh-dawuh mau akeh banget kang sinartan katrangan bab sipat-sipating Pangeran, antarane kaya kang wis tak aturake kae: (1) tan pisah klawan sira lan pirsa samubarang tindakira (2) nguningani sajroning atinira (3) luwih cedak tinimbang otot bebayunira (4) lan liya-liyane kang surasane sairib mengkono.”
(“Hla Qur’an bukanlah babad seperti itu. Seutuhnya Qur’an setebal 30 juz atau 114 surat (bab) itu memuat perintah-perintah Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad s.a.w. Perintah-perintah itu banyak sekali disertai dengan keterangan mengenai sifat-sifat Allah, antara lain seperti sudah kukatakan : (1) tidak berpisah dari dirimu dan mengetahui semua perbuatanmu (2) mengetahui isi hatimu (3) lebih dekat dari pada urat lehermu (kata yang dipakai “otot bebayunira” = “saluran napas kamu”) (4) dan lain-lain yang isinya serupa.”)
Tulisan Bratakesawa yang mengutip ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, untuk ”meluruskan” gagasannya, rupanya juga membuka ruang untuk disalahpahami. Dalam ”Serat Kuntji Swarga[21] misalnya, Bratakesawa menggunakan kitab Kejadian dan Yohanes untuk mendukung konsepsinya tentang manifestasi ”citra” Allah. Bambang Noorsena menilai bahwa pandangan Bratakesawa tentang Yesus sebagai Putra Allah dalam hubungannya dengan  Sang Bapa sudah sesuai dengan pewartaan Injil. Kata ”putra” disana tidak bermakna letterlijk atau harfiah, melainkan simbolis yang serupa dengan bayangan. Hal ini dapat dilihat dalam karya Bratakesawa yang dikutip oleh Bambang Noorsena sebagai berikut:
Kitab Toret (Turat) nyebutake: Allah banjur nitahake manungsa nulad citra-Ne, enggone nitahake kang tinulak citra-Ne Allah, pada katitahake lanang lan wadon” (Purwaning Dumadi 1 : 27).
Ing Injil nyebutke: ” Ora ana wong kang marek marang Sang Rama menawa ora metu ing Aku. Menawa kowe pada wanuh marang Aku, mesthi iya padha wanuh marang Rama-Ku” (Yokanan 14: 6,7). Wong Kang wus ndeleng sang Rama, lan Sang Rama ana ing aku ?” (Yokanan 14: 9, 10). Coba rasakna. Kang ditembungake manungsa nulad citra-Ne Allah ing Kitab Toret iku rak iyo kang tak umpamaake wewayangane srengenge karo srengenge, ta? Lha kang sinebut Sang Putra karo Sang Rama ing Kitab Injil mau rak iyo iku, ta?
Ewadene ing Qur’an perlu nerangake Lam yalid wa Lam Yulad (al-Ikhlas 3 : ”Ora peputra lan ora diputraake”). An da’au lir rahmani waladan wa maajanbaghi lir rahmani an jattachidza waladan (Maryam 91,92: ”Deweke pada kanda yen Pangeran iku kagungan putra, lha pangeran kagungan putra iku ora patut), jalaran ana wong-wong kang nekadake yen tembung ”putra” iku ateges letterlijk, dudu symbolisci kang pepindane wewayangan.
Terjemahan:
Kitab taurat menyebutkan: ”Maka Allah menciptakan manusia sesuai dengan citra diri-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya laki-laki dan perempuan” (Kejadian 1: 27). Dalam Injil disebutkan: ”Tidak ada seorang pun yang datang kepada sang Bapa, kalau tidak melalui Aku. Apabila kamu mengenal Aku, pasti pula kamu mengenal Sang Bapa (Yoh. 14: 6,7). ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat sang Bapa, tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (Yoh. 14: 9,10). Cobalah rasakan, yang dikalimatkan manusia sebagai citra Tuhan dalam Kitab Taurat itu, bukankah sama dengan yang kuumpamakan bayangan matahari dengan matahari? Dan bukankah yang disebut Sang Putera dan Sang Bapa dalam Kitab Injil juga sama dengan itu? Akan tetapi, Alquran perlu enjelaskan Lam Yalid walam Yulad (al-Ikhlas 3: ”Tidak beranak dan tidak diperanakkan”). An da’au li’rahmani waladan wa maajanbaghi lir rahman an jattachidza waladan (Maryam 91:92: ”Mereka mengatakan mempunyai putera, sedangkan mengatakan Tuhan berputera itu tidak patut”). Disebabkan ada orag-orang yang mengartikan kata ”putera” itu secara harfiah, bukan dalam arti simbolis yang diibaratkan bayangan. (sic!)[22]
Dalam menilai kutipan di atas Bambang Noorsena memberikan catatan bahwa meskipun pelukisan Bratakesawa tidak jauh berbeda dengan apa yang diwartakan Injil, namun terdapat perbedaan yang tidak dapat dianggap kecil. Menurut Noorsena, walaupun menggunakan sebutan yang sama, istilah Putera Allah dalam hubungannya dengan sang Bapa dalam Kuntji Swarga dimaksud untuk membenarkan pandangan bahwa Purusha sebagai individueele God dan Isywarasebagai algemeene God. Bratakesawa mengibaratkan keduanya sebagai matahari dan bayangannya, Allah dengan citranya atau Tuhan dengan putera.[23] Selanjutnya, Bambang Noorsena menempatkan bahwa posisi Bratakesawa seolah-olah berusaha menjelaskan bahwa umat Islam telah salah paham  terhadap pengertian ”putera Allah” yang selama ini dimaknai secara harfiah dan fisikal. Hal tersebut diungkapkan oleh Bambang Noorsena sebagai berikut:
 ”Selanjutnya, kendati kita mendapatkan seraut wajah yang serba remang-remang dan penuh tanda tanya, namun berkat tradisi dan budaya Jawa yang luhur dan tinggi pesan Injil lebih mampu ditangkap dan diterjemahkan sesuai dengan polanya sendiri. Pernyataan ini dikemukakan khususnya dengan mengambil perbandingan dengan agama Islam.
Misalnya, mengenai gelar Putera Allah. Harus ditekankan bahwa yang dihadapi oleh Serat Centhini, R. Ng. Ranggawarsita, Bratakesawa, atau Raden Soenarto bukan masyarakat penyembah patung seperti dijumpai Nabi Muhammad. Karena itu tidak pernah ada kekhawatiran bahwa penggunaan istilah Putera Allah akan diterima secara harfiah dan fisik, seperti pertentangan kasar Lam Yalid wa lam Yulad. Alasannya, ”Bagaimanakah Allah beranak, sedangkan Dia tidak beristri? (Qur’an, surah al-An’am 101). Bahkan untuk kesalahpahaman itu, Serat Darmagandhul, Pakde Narto, dan Bratakesawa merasa perlu untuk menjelaskan kepada umat Islam yang belum mengerti.”[24]
Tulisan Bambang Noorsena tersebut seolah memberi peluang bagi pembaca untuk menafsirkan secara beragam. Kalimat-kalimat yang ditampilkannya memiliki kesan ambigu. Pada satu bagian seolah-olah menggambarkan bahwa manusia Jawa yang memiliki tradisi dan budaya luhur nyatanya lebih mampu menangkap esensi putra Allah dalam kekristenan, dibandingkan ajaran Islam. Penggunaan gelar putera Allah dalam Islam , menurut pandangan ini, seringkali dihubungkan dengan hal yang bersifat fisik dan harfiah. Jika yang dimaksudkan oleh Bambang Noorsena adalah hendak menyalahkan pandangan Islam, maka hal itu justru merupakan sebuah peletakan batu bagi monumen ketidakpahaman.
Kritik Islam terhadap paham ”Allah beranak” bukan hanya mencakup terhadap pemahaman yang bersifat alegoris atau simbolis belaka, namun memang menyangkut pada wilayah yang bersifat fisik dan harfiah. Dalam gambaran masyarakat jahiliyah Arab, Allah telah digambarkan memiliki beberapa putri dalam makna yang bersifat fisik. Penyembahan terhadap berhala hakikatnya mewakili konsep penyembahan terhadap Allah melalui perantara putri-putri Allah yang telah dimanifestasikan dalam wujud patung. Salah satu fungsi Al Quran adalah mengkritik pemahaman yang bersifat demikian dan meluruskan ajarannya untuk kembali kepada ajaran azasi millah Ibrahim, yang menyembah Allah sebagai zat yang maha tanpa mempersamakannya dengan makhluk yang memiliki wujud material.
Nama Bratakesawa yang dicatut oleh Bambang Noorsena sebagai salah satu tokoh yang hendak menjelaskan hakikat putera Allah ”kepada umat Islam yang belum mengerti” sebenarnya justru melakukan kritik secara tersirat terhadap ajaran kekristenan. Nampaknya, Bambang Noorsena justru kurang mampu menangkap esensi dari Serat Kunci Swarga ketika melakukan pengutipan terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Terbukti, Noorsena justru hanya menekankan bahwa Bratakesawa menggunakan ungkapan simbolis ”Matahari dan bayangan” dalam menggambarkan ”Allah dan Putera” sebagai wujud pembenaran teori Individueele God dan Algemeene God. Terkait konsep yang terakhir ini masih dapat diperdebatkan, namun esensinya jauh melampaui wilayah tersebut.
Hal tersebut dapat dicermati pada pengertian yang hendak dibangun Bratakesawa terkait dengan hubungan antara titah dengan khaliq, termasuk posisi simbolis antara Matahari dan bayangannya. Sebagaimana diungkapkan Bratakesawa dalam Kunci Swarga sebagai berikut:
”Paham loro iku mau mungguhing aku: pada benere. Sebabe sulaya, ora liya jalaran ora padha dirasakake disik : endi ta kang diarani titah utawamakhluq ana ing soal kang dirembug iku ?
Yen kang diarani makhluq ana ing wedaran kono iku barang kang mawa wangun – kasara utawa alusa, – mula bener kang anekadake yen makhluq karo khaliq iku loro, ora siji lan ora bisa nunggal, jer khaliq iku tanpa wangun, dudu jisim dudu jirim, tan kena kinya ngapa.
Dene yen kang diarani makhluq ing kono iku Wewayanganing Srengenge mungguhing si jembangan isi banyu, rak iyo bener kang anekadake yen makhluq karo khaliq iku: siji, ta? Rak iya ora kliru yen makhluq iku bisa nunggal karo khaliq, ta? Kepriye, apa kurang cetha keteranganku iki?”[25]
Terjemahan:
Dua paham itu tadi menurutku: sama benar. Penyebab terjadinya perbedaan, tidak lain adalah tidak dirasakan dahulu: mana yang dinamakan makhluk dalam persoalan yang sedang dibicarakan itu?
Jika yang dinamakan makhluk dalam pembicaraan itu adalah barang yang memiliki bentuk – kasar atau pun halus – maka benar yang beranggapan bahwa makhluq dan khaliq adalah dua, bukan satu dan tidak bisa menyatu, sebab khaliq itu tanpa bentuk, bukan jisim dan bukan jirim, tidak dapat dipersamakan dengan sesuatu pun.
Ada pun jika yang dinamakan makhluk di situ adalah bayangan Matahari dalam bejana berisi air, bukankah benar yang beraggapan bahwa makhluq dan khaliq itu satu, kan? Bukankah tidak keliru jika makhluk itu bisa menyatu dengan khaliq, kan? Bagaimana, apa kurang jelas keteranganku ini?
Dari keterangan di atas Bratakesawa coba membenarkan dua konsep pandangan sekaligus yaitu bahwa makhluk – khaliq tidak bisa menyatu dan dipihak lain, makhluk-khalik bisa menyatu. Menurut pandangan Bratakesawa kedua pandangan yang seolah kontradiktif tersebut pada dasarnya tidak saling bertentangan dan tidak perlu menjadi sumber pertentangan. Hal itu akan terjadi jika pengertian makhluk dalam masing-masing konsep diuraikan secara definitif. Ketika makhluk didefinisikan sebagai wujud material maka ia tidak akan dapat bersatu dengan khaliq yang immaterial. Sedangkan pengertian dari konsep kedua lebih menekankan makhluk sebagai wujud immaterial yang dicontohkan sebagai bayangan matahari dalam jembangan berisi air.
Definisi yang kedua dalam karya Bratakesawa ini sesungguhnya merupakan kritik terhadap konsep persatuan Tuhan dan Manusia dalam kepribadian Yesus. Meskipun pada tingkatan tertentu makhluk dapat menyatu dengan citra khaliq sebagaimana menyatunya bayangan matahari dalam bejana berisi air, namun bayangan matahari tersebut tetap tidak dapat disebut sebagai matahari. Demikian juga meskipun manusia Yesus memiliki citra yang berasal dari Allah, namun Yesus tetap tidak dapat dinamakan Allah. Sebab Yesus hanya menjadi reflektor bagi citra Allah dan memang bukan Allah itu sendiri. Lebih lanjut, Raden Bratakesawa memberikan keterangan bahwa penyatuan antara makhluk dan khalik jangan disamakan dengan ”Mudadama dapat melihat kepada Wredatama”, namun seperti keyakinan ”kaya ngertimu marang dina Ngahad. Anggonmu percaya sebab kantor-kantor pada tutup, sarta dina Jumuwah wis kupungkur let sedina[26] (Seperti pengertianmu terhadap Hari Ahad, engkau percaya bahwa pada hari itu banyak kantor-kantor yang tutup, serta Hari Jumat sudah berjarak satu hari sebelumnya).
Pandangan Bratakesawa yang menggunakan perumpamaan matahari dan bayangan matahari dalam bejana air ini memiliki kemiripan dengan pemikiran Al Ghazali yang tertuang dalam Ihya’ Ulumuddin. Al Ghazali menerangkan bahwa keberadaan Tuhan sebenarnya bersifat ngegla (terang benderang). Hal ini diungkapkan dengan menggunakan tamsil atau analogi bahwa Tuhan adalah seperti halnya matahari. Sedangkan manusia ditamsilkan sebagaimana halnya kelelawar. Selama kehidupannya kelelawar tidak mampu melihat matahari karena inderanya sangat lemah. Cahaya Allah, menurut Al Ghazali, yang dianalogikan seperti matahari itu teramat terang, sementara indera manusia tidak mampu menangkapnya. Manusia akan bisa menangkap cahaya Allah dengan menggunakan mata hati. Hati atau qalbu oleh Al Ghazali diibaratkan dengan cermin (mir’ah). Jika cermin ini dibersihkan dari kotoran duniawi maka manusia akan bisa melihat citra Allah melalui cermin hatinya.[27] Melalui pandangan ini dapat diungkapkan bahwa bayang-bayang (citra) Tuhan bersifat immanen dalam kalbu manusia, maka syarat untuk melihat Tuhan adalah dengan pensucian hati dan mawas diri. Sementara Tuhan itu sendiri tetaptranscendent, mengatasi alam semesta.
KLAIM KEBATINAN
Telah diungkapkan sebelumnya beberapa akademisi Kristen berusaha mengetengahkan bukti bahwa ajaran Bratakesawa menunjukkan rasa “simpatik” dan tidak bertentangan dengan kekristenan. Pandangan ini dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa Bratakesawa merupakan tokoh kebatinan, sebuah entitas yang ditempatkan berada di luar Islam. Dengan kata lain penempatan Bratakesawa sebagai tokoh kebatinan ini secara serta merta akan menempatkan sosoknya pada posisi kontra Islam. Meskipun pandangan ini berusaha mengetengahkan “bukti-bukti”, namun agaknya belum mampu memotret secara utuh makna sebenarnya dari “kebatinan”. Tidak mengherankan jika produk dari diskursus ini akhirnya bersifat bias. Meskipun demikian, definisi-definisi tentang kebatinan hingga saat ini juga masih belum menemukan satu formula pengertian yang memuaskan.
Badan Kongres Kebatinan Indonesia II tahun 1956 di Surakarta merumuskan bahwa arti “kebatinan” adalah “sumber azas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa untuk mencapai budi luhur guna kesempurnaan hidup”.[28] Prof. Dr. H.M. Rasjidi, seorang akademisi muslim yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI pertama, mengungkapkan kritik bahwa pengertian kebatinan tersebut adalah wujud definisi yang terbalik. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila yang penting, sebab Tuhan Yang Maha Esa inilah yang menciptakan alam dan manusia. Ia menciptakan segala wujud, alam ghaib, dan nilai-nilai. Dalam pandangan ini Tuhan Yang Maha Esa menjadi sumber dari segala sesuatu, termasuk menjadi sumber bagi kebatinan. Oleh karenanya, bukan kebatinan yang menjadi sumber Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana definisi BKKI tersebut. Melainkan Ketuhanan Yang Maha Esa-lah yang menjadi sumber kebatinan.[29] Meskipun demikian pengertian “kebatinan” dalam definisi ini tetap belum memberikan batasan yang mencukupi.
Bratakesawa tokoh yang “tertuduh” sebagai tokoh kebatinan, juga memiliki definisi sendiri tentang makna “kebatinan”. Ia mendefinisikan kebatinan merupakan “semua pengetahuan yang bukan permasalahan lahir.” Masuk dalam definisi kebatinan adalah sejumlah aji-ajian dan ilmu ghaib. Dalam pengertian ini, Bratakesawa menganggap bahwa ilmu Ketuhanan merupakan ilmu yang berdiri sendiri dan bukan bagian dari ilmu kebatinan. Hal ini diungkapkan Bratakesawa sebagai berikut:
 “Kabatinan” iku luguning tegese: sakabehing kawruh kang dudu babagan lahir. Dadi: sawernaning aji-aji lan kaluwihan iku kalebu kawruh kabatinan kabeh. Hla iku pancen ora kalebu kawruh ka-Allahan.[30]
Terjemahan:
(Kebatinan itu secara sederhana maksudnya semua pengetahuan yang bukan permasalahan lahir. Jadi, sejumlah aji-aji dan kelebihan (yang bersifat ghaib) itu semua termasuk pengetahuan kebatinan. Hla hal itu memang tidak termasuk pengetahuan ke-Allahan.)
Untuk membedakan antara ilmu kebatinan dan ilmu Ketuhanan (ke-Allahan), Bratakesawa memberikan definisi bahwa ilmu ketuhanan adalah pengetahuan yang menerangkan tentang zat, sifat, asma’ dan af’al Allah. Makna ini bisa diperluas dengan menambahkan cara atau metode yang dilakukan manusia untuk berbakti kepada Allah, baik secara lahir maupun batin yaitu dengan menjalani syari’at, Tarikat, Hakikat, dan Ma’rifat.  (“Ka-Allahan” tembunge Indonesia ke-Tuhanan, iku kawruh kang nerangake bab Dat, Sipat, Asma, lan Apngaling Pangeran. Kena dijembarake maneh: uga bab carane ngabekti marang Allah, lahir lan batin, iya Sarengat, Tarekat, Kakekat, lan Makripat iku mau).[31]
Dengan mencermati pengertian “kebatinan” yang dicetuskan oleh Bratakesawa, maka secara kokoh “guru orang Jawa” ini sebenarnya telah mengokohkan dirinya bukan sebagai tokoh kebatinan. Buku-buku karyanya secara umum menunjukkan adanya muatan ilmu Ke-Allahan, sesuatu yang dimaksudkan berada di luar ilmu Kebatinan menurut pengertian Bratakesawa.
Bahkan tulisan Bratakesawa “Kuntji Swarga” merupakan jawaban atas munculnya berbagai aliran kebatinan yang memiliki iktikad menyimpang. Munculnya aliran kebatinan semacam ini, menurut Bratakesawa, menciderai ajaran agama yang telah disiarkan para Rasul. Tumbuhnya aliran kebatinan yang saling berjibaku dan terlibat konflik menjadi akar makin melemahnya bangsa, dan pada giliran selanjutnya merugikan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, kehadiran “Kuntji Swarga” adalah sebagai sarana menyebarkan iktikad tentang Allah berdasarkan dalil naqli (Al Quran dan Hadits) dan dalil Aqli (menurut akal pikiran).[32]
Metodologi penalaran induktif yang digunakan oleh Harun Hadiwijono untuk menemukan makna “kebatinan” dan karakteristiknya, akan sulit menemukan sebuah konklusi yang tepat. Proposisi-proposisi yang digunakan oleh Harun untuk mencapai sebuah “konklusi”ternyata tidak semuanya merupakan entitas yang memiliki hubungan dengan “kebatinan”. Buku “Kebatinan dan Injil” karyanya menggunakan lima buah proposisi yang dianggap representasi dari kebatinan  antara lain Paguyuban Sumarah, Sapta Darma, ajaran Bratakesawa, Pangestu, dan ajaran Paryana Suryadipura untuk bisa menghasilkan definisi kebatinan beserta karakteristik mendasarnya. Namun demikian telah dijelaskan sebelumnya Bratakesawa, hanya merupakan salah satu contoh tokoh yang “dianggap” kebatinan belaka. Sementara ia seharusnya tidak dimasukkan ke dalam kelompok ini.
 Tokoh lain yang perlu dicermati adalah dokter Paryana Suryadipura. Dokter ini oleh Harun Hadiwijono juga dikategorikan sebagai salah satu tokoh kebatinan, entitas yang dianggap berada di luar Islam. Harun Hadiwijono mengungkapkan bahwa dr. Paryana Suryadipura bermaksud menganalisa proses pikiran dengan menggunakan salah satu metode yaitu menggunakan patokan agama. Patokan agama yang dimaksud oleh Paryana Suryadipura menurut Harun Hadiwijono adalah “ilmu kebatinan”.[33]
 Pandangan Paryana Suryadipura sebenarnya menekankan adanya 2 (dua) dimensi dalam agama yaitu ilmu lahir dan ilmu gaib (mistik). Ilmu yang bersifat lahir yaitu patokan-patokan agama yang ada dalam kitab suci masing-masing. Dengan cara menjalankan syariat agama dengan baik atau dengan kata lain memperkuat dimensi lahir dari agama, maka tenaga batinnya akan timbul dengan sendirinya. Seseorang tidak akan dapat memperoleh kekuatan batin, apabila tidak mengenal dan menjalankan praktik agama yang dianut dengan sebaik-baiknya. Paryana Suryadipura menyebut proses timbulnya tenaga atau ilmu batin yang muncul dengan menjalankan syariat agama sebagai akibat dari hukum automatisme.[34] Oleh karena itu penilaian Harun Hadiwijana yang menempatkan bahwa metode “patokan agama” yang digunakan oleh Paryana Suryadipura adalah “ilmu kebatinan”, merupakan gagasan yang kurang tepat.
 Paryana Suryadipura mengusulkan adanya penempatan posisi dan relasi yang tepat antara entitas agama dan kebatinan. Ia menyesalkan munculnya praktik dimana “ilmu kebatinan” dijadikan sebagai substitusi agama. Kebatinan seharusnya sekedar menjadi aliran yang berusaha memperdalam pengetahuan tentang filsafat dan secara ideal bernaung di bawah syari’at agama. Para penghayat kebatinan yang mengabaikan syara’ atau bahkan menginjak-injaknya dianggap mewarisi semangat era penjajahan dan sifat mereka itu bersifat paradoks belaka. Usaha menempuh dunia batin dengan mengabaikan syariat agama adalah upaya yang sia-sia, membuang waktu dan tenaga saja. Para pemimpin kebatinan yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, namun menciptakan sendiri aturan peribadatannya, tanpa mengikuti syara’dianggap telah mengabdi pada kesesatan. Diibaratkan seperti “menjilat sambil meludah” yaitu mencoba mencari kesejatian Allah namun pada saat yang sama mengingkari perintah-Nya.[35] Pada bagian lain, Paryana Suryadipura menunjukkan pendiriannya yang tegas dalam berpegang kepada syariat agama sebagai berikut:
  “Aturan-aturan menurut sara’ adalah lengkap, karena suara yang mengandung amanat berisi sara’ diterima melalui antenne (para Nabi) yang tertinggi, hingga suara itu terdengar semua (tidak ada feeding), jelas, dan suci (tidak dinodai oleh suara yang mengganggu = tidak ada storing). Mungkin tidak ada dosa yang lebih besar dari pada MENJILAT SAMBIL MELUDAH tadi, oleh karena yang dijilat sambil diludahi disini adalah Tuhan sendiri. Didalam Hadits disebut: “Siapa yang mengada-adakan sara’, kufurlah ia”.[36]
Kesalahan Harun Hadiwijono dalam menetukan proposisi ini, baik dalam kasus penempatan Bratakesawa maupun Paryana Suryadipura sebagai tokoh kebatinan, jelas berakibat fatal. Seperti menciptakan sebuah bangunan argumentasi dengan menggunakan “batu bata” yang masih mentah. Bangunan itu bisa saja berhasil didirikan, namun tentu diikuti dengan timbulnya sejumlah kelemahan yang menjadi konsekuensi logis dari pemilihan bahan tersebut.
DAI YANG LUAR BIASA
Salah paham terhadap kepribadian Raden Bratakesawa memang sering terjadi di kalangan para penulis. Beberapa diantaranya menempatkan Bratakesawa sebagai sosok kebatinan Jawa. Apalagi jika terdapat sejumlah sumber dari pihak Kristen yang justru mendukung teori yang keliru tersebut.
Tindakan manipulatif kalangan Kristen ini nampaknya bukan sekedar kesalahpahaman atau kekeliruan. Tetapi merupakan suatu model “perilaku akademis” yang sengaja dipraktikkan. Azyumardi Azra, sejarawan, menempatkan Harun Hadiwijono sebagai salah satu akademisi Kristen yang mempraktikkan strategi dikotomi dan pemisahan oposisional antara Islam dengan kebudayaan Jawa. Diantaranya dengan mensimplifikasi sikap keagamaan masyarakat Jawa sebagai “Kebatinan” (Kejawen). Tujuannya adalah mereduksi dan mengaburkan pengaruh Islam dalam sikap keagamaan itu atau bahkan dalam lapangan kebudayaan yang lebih luas. Bisa ditebak, wajah Islam di Jawa diusahakan semakin memudar dan tersedia peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris.[37]
Padahal makna ”kebatinan” itu sendiri pada dasarnya masih debatable, apalagi jika harus memasukkan ajaran Bratakesawa sebagai salah satu variannya. Hal yang paling nampak dari karya-karya Bratakesawa menunjukkan bahwa ia merupakan sosok yang mencoba mempertahankan dan menempuh jalur ”orthodoksi” Islam. Ia merupakan salah satu anggota Persyarikatan Muhammadiyah yang secara bertepatan memiliki ”kesenangan” untuk mengkaji tentang masalah budaya Jawa. Namun demikian karya-karyanya tidak jarang menampakkan wajah paham ”Asy’ariyah” yang pada masanya menjadi salah satu ciri khas dari pemikiran kalam dalam Nahdhatul Ulama (NU). Juga karya-karyanya yang mencoba membedah sejumlah produk budaya Jawa dan Islam seperti almanak[38], pengetahuan tentang Candra Sengkala[39], perhitungan selamatan orang mati[40], dan lain sebagainya. Dengan demikian, Raden Bratakesawa memang merupakan sosok yang unik dan sekaligus menarik.
Penulis: SusiyantoPeneliti di Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI)Dipublikasikan ulang seizin penulis dari www.susiyanto.wordpress.com



FOOTNOTE:
[1] Tulisan Imam Supardi yang dimaksud merupakan sebuah prakata dari buku ”Kuntji Swarga” cetakan keenam karya Bratakesawa. Lihat Dr. Harun Hadiwijono.Kebatinan dan Injil. Cetakan IX. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006). Hal. 43
[2] Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 77-79
[3] Lihat Susiyanto. Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa. (Cakra Lintas Media, Jakarta, 2010). Hal. 247-250
[4] Perkiraan ini didasarkan pada cerita Bratakesawa saat bertemu guru Sarekat Abangan yaitu Mangunatmojo, dia mengaku umur 23 tahun. Sedang bratakesawa ditugaskan di Klaten sebagai sekretaris Insulide Surakarta sekitar 1921.
[5] Moh Hari Suwarno. Syekh Siti Jenar. (PT.Antar Surya Jaya,tanpa kota tanpa tahun). Hal.20
[6] Prof. Dr. Hasanu Simon. Misteri Syekh Siti Jenar. (Pustaka Pelajar,Yogyakarta;2008). Hal.380
[7] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq: Ngewrat Wedaran Bab Ingkang Sinebut Al-Chaliq utawi Allah. Cetakan III. (Kulawarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1958). Hal. 3-4
[8] Raden Bratakesawa menjelaskan bahwa motivasi penulisan buku “Serat Bajanul Chaliq” disebabkan bahwa masyarakat pembaca “Serat Kuntji Swarga” dan “Wirid I.T.M.I” banyak yang berasal dari kalangan awam yang belum memiliki pemahaman mendasar untuk mengakses kedua kitab tersebut. Juga sebagai bacaan pembanding atas terbitnya karya Raden Panji Natarata, baik Falsafah Sitidjenarmaupun Serat Bayanullah.  Serat Bajanul Chaliq merupakan kitab yang menjelaskan pandangan dan jati diri Bratakesawa sebagai seorang muslim. Lihat Bratakesawa.Serat Bajanul Chaliq … Ibid. Hal. 3-4
[9] Lihat Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Ibid. Hal. 7
[10] Raden Pandji Natarata (hidup sekitar tahun 1810-1890) pernah menjabat sebagai kepala distrik Ngijon, Yogyakarta. Sebelumnya ia bernama Raden Sasrawidjaja dan pernah mengampu pelajaran Bahasa Jawa di sebuah sekolah guru di Surakarta. Serat Bayanullah merupakan karya Raden Panji Natarata yang membahas tentang sejumlah aliran menyimpang yang bertentangan dengan Islam dan pernah berkembang di Jawa. Dalam karya ini Raden Panji Natarata berusaha menjelaskan dan menyanggah terhadap penyimpangan yang terjadi pada aliran-aliran yang ada. Bratakesawa, yang pada masa selanjutnya berperan dalam mengedit dan menerbitkan karya yang sebelumnya merupakan tulisan tangan tersebut, menyatakan bahwa Serat Bayanullah sebelumnya pernah di muat di Almanak H. Buning, sekitar tahun 1910-an.  Lihat Bratakesawa (ed.). Serat Bayanullah: Anggitanipun swargi Raden Pandji Natarata. (Y.P. Jaya Baya, Surabaya, 1975). Hal. 1-4
[11] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq: Ngewrat Wedharan Bab Ingkang Sinebut Al-Chaliq utawi Allah. Cetakan III. (Kulawarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1958). Hal. 7. Garis bawah (underline) pada sejumlah kata berasal dari naskah aslinya, namun ejaan dalam pengutipan ini telah disesuaikan dengan ejaan yang saat  ini berlaku.
[12] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Hal. 8
[13] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Hal. 8
[14] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Hal. 8-9
[15] Lihat Bratakesawa. Falsafah Sitidjenar: Ngewrat Pangrembag Paham Wahdatul-Wudjud (Pantheisme) ing Tanah Jawi, Ingkang Menggok Dados Paham Ngaken Allah Tuwin Ngorakaken Wontenipun Ingkang Nitahaken (Atheisme). Cetakan VI. (Jajasan Penerbitan “Djojobojo”, Surabaya, tth). Hal. 10
[16] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq ..Opcit. Hal. 9
[17] Lihat pengakuan Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq ..Opcit. Hal. 9
[18] Bratakesawa. Wirid I. T. M. I: Iman Tauhid Ma’rifat Islam Jaiku Bapa-Babuning Kabeh Wirid Kang Adedasar Falsafah Islam. Cetakan V. (Jajasan Penerbitan “Djajabaya”, Surabaya, tth). Hal. 22
[19] Bratakesawa. Wirid I.T.M.I. … Hal. 22
[20] Bratakesawa. Wirid I. T. M.I … Hal. 23
[21] Buku Kunci Swarga merupakan karya dari Raden Bratakesawa yang dirancang untuk menerangkan sejumlah pokok-pokok keyakinan Agama Islam. Penyampaian isi bukunya  dilakukan dengan metode dialogis yang melibatkan dua orang karakter, pertama bernama Wredatama, yaitu seorang yang berusia lebih tua dan mumpuni dalam ilmu keagamaan dan kedua, Mudadama yaitu seorang yang lebih muda yang berusaha untuk mencari dan mengkaji ilmu tentang kasunyatan. Diceritakan bahwa Mudadama telah berguru kepada sejumlah guru ngelmu dan kebatinan serta membaca sejumlah buku-buku yang terkait, namun bukannya menemukan pencerahan justru ia menuai kebingungan sebab ajaran masing-masing guru dan keterangan dari setiap buku bacaannya tidak memiliki kesamaan, bahkan beberapa bertentangan. Maka maksud kedatangan Mudadama kepada Wredatama adalah meminta sang ”tetua” mengurai kerumitan akibat kajian ngelmu yang telah diperolehnya. Selanjutnya terjadi percakapan diantara kedua terus berlangsung hingga menyangkut masalah-masalah yang lebih mendalam dalam ajaran Islam. Menariknya, buku karya Raden Bratakesawa disusun dengan bahasa yang umumnya mudah dipahami dengan melibatkan emosi persaudaraan antara kedua karakternya dan disertai dengan contoh-contoh yang relevan dengan keseharian orang Jawa, sehingga dengan demikian pembaca akan turut menilai alur pembicaraan sebagai sebuah realitas yang selalu saja hadir disekeliling pembaca. Meskipun memang dalam beberapa bagian terdapat pula bahasa-bahasa yang meng”awang” (melangit), namun gaya penceritaan yang selalu memberikan keterangan memadai akan menggugurkan kesulitan tersebut.
[22] Kutipan kitab kunci swarga dan terjemahannya berasal dari Bambang Noorsena.Menyongsong … Opcit. Hal. 78-79. Sebagai sebuah kutipan terdapat perbedaan dengan naskah asli yang dikutip meskipun demikian tidak terlampau berarti kecuali penulisan ”Maryam 91:92” dalam penterjemahan yang mungkin saja  bisa menimbulkan kesalah pahaman. Hal itu terjadi mungkin karena salah pengetikan yang dilakukan Bambang Noorsena. Bandingkan Bratakesawa. Kunci Swarga (miftahu’l jannati). Cetakan VIII. (Keluarga Brotokesawa, Yogyakarta, 1979). Hal. 56-57
[23] Bambang Noorsena. Menyongsong … Ibid. Hal. 82
[24] Bambang Noorsena. Menyongsong … Ibid. Hal. 87
[25] Bratakesawa. Kunci Swarga … Opcit. Hal. 55-56
[26] Bratakesawa. Kunci Swarga … Ibid. Hal. 49
[27] Lihat Simuh. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. (PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1996). Hal. 169-170
[28] Lihat Hasil Seminar Kebathinan Indonesia ke-I Jakarta. (Badan Kongres Kebathinan Indonesia, Jakarta, 1959). Hal.  139. Lihat juga Prof. Dr. H.M. Rasjidi.Islam dan Kebatinan. (Jajasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta, 1967).  Hal. 75
[29] Prof. Dr. H.M. Rasjidi. Islam dan Kebatinan. (Jajasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta, 1967). Hal. 75
[30] Bratakesawa. Kuntji Swarga (Miftahu’l Djannati). Jilid I. Cetakan V. (Keluarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1955). Hal. 15
[31] Bratakesawa. Kuntji Swarga. Jilid I. Ibid. Hal. 15
[32] Lihat “Prawacana” Bratakesawa. Kuntji Swarga (Miftahul Djanati). Cetakan VII. Penerbit Jajasan Djajabaja, Surabaya, 1966). Hal. 3
[33] Dalam menilai pandangan dr. Paryana Suryadipura, Harun Hadiwijana hanya menggunakan salah satu buku karya dokter Jawa itu saja. Buku yang dimaksud adalah “Alam Pikiran”. Lihat Dr. Harun Hadiwijono. Kebatinan dan Injil. …Opcit. Hal. 109-110
[34] Lihat dr. R. Paryana Suryadipura. Daya Upaya Memperoleh Kesampurnaan. (Akademi Metafisika Sapta Gama Surakarta- Adhiningrat, Surakarta, 1956). Hal. 2 dan 6
[35] Lihat dr. R. Paryana Suryadipura. Manusia Sempurna (Al Insan Kamil).  Ceramah Pada Pembukaan Akademi Metafisika Sapta – Gama di Surakarta 12 Februari 1956
[36] Dikutip dengan penyesuaian ejaan. Lihat dr. R. Paryana Suryadipura. Manusia Sempurna  … Ibid
[37] Lihat Pengantar Azra dalam Karel Steenbrink, Kawan Dalam Pertikaian (Mizan, Bandung, 2005). Hal.  xxii
[38] Almenak yang dimaksud berisi tentang cara menghitung konversi antara sistem kalender Masehi, Arab, dan Jawa. Lihat Bratakesawa. Almenak Atusan Tahun. (Panjebar Semangat, Surabaya, 1968)
[39] Buku Bratakesawa menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan tentang Candra Sengkala telah dipraktikkan di Jawa sejak jaman pra-Islam, namun keberadaan Islam turut memberikan warna tersendiri bagi corak Candra Sengkala yang baru. Lihat Bratakesawa. Katrangan Tjandrasangkala. Cetakan II. (Balai Pustaka, Jakarta, 1952)
[40] Karya Bratakesawa ini dimuat ulang oleh Majalah Panjebar Semangat dalam memperingati  Ulang Tahunnya yang ke-60 tahun. Sebelumnya dimuat dalam majalah yang sama pada No. 19 tgl. 20 Juni 1964. Lihat Bratakesawa. Petung Slametane Wong Mati: Carane Nggoleki Dina lan Pasarane. Majalah Panjebar Semangat No. 36 – 4 September 1993. Hal. 23 -24

Reaksi:

0 komentar:

Al-Qur'an Digital

Terjemah

Barat Bungkam terhadap Nuklir Zionis

Syi'ah Tak Pernah Berperang Melawan Israel

Oleh, AM Waskito

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah Rafidhah selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

Sejarah Syiah: "Selalu Menusuk Ahlus Sunnah dari Belakang. Dan Tak Pernah Perang Melawan Orang Kafir."
[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis agama Persia (Syiah Rafidhah) ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu.

Lalu bagaimana pandangan kita sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?

Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…

PERTAMA. Kaum Syiah Rafidhah itu terus bekerja keras dan sangat nafsu, agar mereka tetap diakui sebagai Islam, tetap dipandang sebagai Muslim, tetap menjadi bagian dari kaum Muslimin sedunia. Hal ini adalah hakikat siksaan spiritual yang Allah timpakan atas hati-hati mereka, selamanya. Mereka telah sangat berdosa karena mencaci, melecehkan, mengutuk, dan mendoakan keburukan atas isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Maka Allah pun menjadikan mereka selalu gelisah, takut, dan sangat menginginkan diberi label Islam atau Muslim. Mereka selalu dalam kebingungan seperti ini, layaknya Bani Israil yang kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih, karena telah menghina Musa ‘Alaihissalam dan Allah Ta’ala. Lihatlah manusia-manusia pemeluk agama Persia (Rafidhah) itu…mereka kemana-mana membawa laknat atas doa-doa laknat yang mereka bacakan untuk mengutuki manusia-manusia terbaik dari para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

KEDUA. Dalam sejarahnya, sejak zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sampai hari ini, ketahuilah bahwa Syiah Rafidhah (agama Persia) ini tidak pernah berjihad melawan kaum kufar, baik itu Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan orang-orang atheis. Syiah tidak punya sejarah jihad menghadapi kaum kufar. “Jihad” kaum Syiah sebagian besar diarahkan untuk menyerang kaum Sunni, sejak zaman dahulu sampai saat ini.

Mula-mula Syiah di Kufah mengundang Husein Radhiyallahu ‘Anhu datang ke Kufah, katanya mau dibaiat. Karena Husein sudah berangkat ke Kufah, oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) Husein dianggap bughat, sehingga boleh ditumpas. Waktu tiba di Kufah, tak satu pun kaum Syiah keluar untuk membaiat, menolong dan mendukung Husein. Posisi Husein sangat terjepit, akan kembali ke Madinah, dia sudah dianggap bughat. Meminta bantuan Kufah, tak satu pun Syiah yang akan menolong. Akhirnya, Husein ditumpas di Padang Karbala. Bahkan kala penumpasan itu, tak satu pun hidung Syiah menampakkan diri, walau sekedar untuk menolong korban dari pihak Husein dan keluarganya. Nah, peristiwa pembantaian Husein oleh kaum Syiah itulah yang selalu mereka rayakan dan nikmati dalam momen-momen Asyura. Air mata mereka mengutuk para pembunuh Husein, sedangkan hati mereka berucap: “Alhamdulillah Husein dan keluarganya telah binasa di Karbala.”

“Jihad” kaum Syiah berikutnya ialah membantu Hulagu Khan (penguasa Mongol) untuk menumpas Khilafah Abbassiyah. Kemudian mereka berusaha melenyapkan kaum Sunni di Mesir, tetapi berhasil ditumpas oleh Nuruddin Mahmud Zanki. Mereka terus menikam perjuangan Shalahuddin Al Ayyubi. Mereka juga selalu menjadi musuh Khilafah Turki Utsmani, selalu kerjasama dengan negara-negara Nashrani Eropa untuk melemahkan Khilafah Turki. Di zaman kontemporer, Revolusi Khomeini di Iran telah menumpas Ahlus Sunnah di Iran. Mereka juga menikam perjuangan mujahidin di Afghanistan. Mereka membantai Ahlus Sunnah di Irak, Libanon, Suriah, Yaman, bahkan mereka hampir menguasai Bahrain.

Singkat kata, tidak ada Jihad kaum Syiah dalam sejarah, selain “jihad” yang diarahkan untuk memusnahkan dan menghancur-leburkan kaum Sunni. Sejarah klasik dan modern sudah memaparkan fakta. Bahkan dalam kasus Iran Contra Gate terbongkar skandal besar. Ternyata, di balik gerakan Kontra di Nikaragua, Amerika memasok senjata kepada para gerilyawan itu. Darimana dananya? Dari hasil kerjasama jual-beli minyak dengan Iran. Padahal dalam kampanye dunia, sudah dimaklumkan bahwa Amerika itu sedang konflik dengan Iran. Tetapi di balik itu ada sandiwara “jual-beli minyak” yang menggelikan. Kasus ini sangat terkenal, sehingga seorang kolonel Amerika dikorbankan sebagai tumbalnya.

KETIGA. Apa sih yang dilakukan Hizbullah (Syiah Rafidhah) di Libanon kepada Israel? Apakah dia terlibat perang terbuka dengan Israel? Apakah dia menduduki wilayah Israel dan berusaha mengusir penduduk Yahudi? Ternyata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya melepaskan tembakan mortir ke arah pasukan Israel atau wilayah Israel. Atau mereka melakukan tembakan senapan, atau tembakan rudal anti tank. Hanya itu saja. Mereka tidak pernah terlibat perang terbuka vis a vis, seperti para pejuang Ahlus Sunnah di Irak, Afghanistan, Chechnya dan lainnya. Jadi singkat kata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya semacam “main-main” untuk membuang amunisi-amunisi ringan. Itu saja kok.

KEEMPAT. Dalam sejarah perang Arab-Israel, sejak merdeka tahun 1948 Israel sudah berkali-kali bertempur dengan pasukan Arab. Yang terkenal adalah perang tahun 48, perang tahun 67, dan perang tahun 70-an. Ia kerap disebut perang Arab-Israel. Setelah itu belum ada lagi perang yang significant. Dalam sejarah ini, lagi-lagi tiada peranan Iran sama sekali. Bahkan ketika Ghaza dihancur-leburkan Israel pada tahun 2008-2009 lalu, Iran lagi-lagi tidak terlibat apa-apa. Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari manusia-manusia pemeluk agama Persia (Syiah Rafidhah) itu?

KELIMA. Menurut Ustadz Farid Okbah, di Iran itu sangat banyak orang-orang Yahudi. Menurut informasi, jumlahnya bisa mencapai 50.000 jiwa. Mereka bisa hidup aman dan sentosa di Iran, sedangkan Ahlus Sunnah hidupnya sangat menderita disana. Iran bersikap welcome kepada kaum Yahudi, dan sangat ofensif kepada kaum Muslimin. Ini adalah realitas yang sangat menyedihkan. Makanya tidak salah kalau ada yang mengatakan, Rafidhah lebih sadis dari orang-orang kafir lain.

Contoh yang sangat unik ialah kerjasama antara Hamas dan Iran. Banyak orang menyebutkan, Hamas kerap kerjasama dengan Iran. Hal itu konon berdasarkan sikap Syaikh Al Bana yang dulunya pernah berujar, bahwa Syiah adalah sesama saudara Muslim juga. Mereka sama-sama Ahlul Qiblah. Tetapi realitasnya, Ikhwanul Muslimin di Suriah dibantai puluhan ribu manusia disana oleh regim Hafezh Assad. Ternyata, regim itu dan anaknya, dibantu oleh Iran juga. Nah, ini kan sangat ironis. Hamas kerjasama dengan Iran, sementara Al Ikhwan di Suriah dibantai oleh regim Suriah yang didukung oleh Iran.

KEENAM. Propaganda bahwa Syiah Rafidhah itu musuh Zionis Israel, semua ini hanya propaganda belaka. Sejatinya mereka itu teman-karib, sahabat dekat, saling tolong-menolong, sebagian menjadi wali atas sebagian yang lain. Mereka ini selamanya tak akan pernah terlibat dalam peperangan. Kaum Yahudi membutuhkan Iran, sebagai seteru Ahlus Sunnah. Sedangkan Iran membutuhkan Yahudi, juga sebagai seteru Ahlus Sunnah. Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwa kelak dajjal akan muncul dari Isfahan (salah satu kota di Iran yang saat ini banyak dihuni Yahudi) dengan 70.000 pasukan. Yahudi membutuhkan Iran, karena darinya akan muncul pemimpin mereka. Dan dalam literatur-literatur Syiah, sosok dajjal itu sebenarnya adalah sosok “Al Mahdi Al Muntazhar” yang selalu mereka tunggu-tunggu. Begitulah, banyak kesamaan kepentingan antara Syiah dan Yahudi.

KETUJUH. Fakta berikutnya yang sangat mencengangkan. Ternyata Syiah Iran juga menjalin kerjasama dengan China dan Rusia, dua negara dedengkotnya Komunis. Mereka ini umumnya kerjasama dalam soal industri, perdagangan, dan jual-beli senjata. Ketika Amerika berniat menjatuhkan sanksi akibat instalasi nuklir Iran, segera China dan Rusia memveto niatan itu. Kedua negara terang-terangan membela Iran. Begitu juga China dan Rusia juga membela regim Bashar Assad (semoga Allah Al Aziz segera memecahkan kepala manusia durjana satu ini, amin ya Mujibas sa’ilin) dari ancaman sanksi internasional. Sedangkan kita tahu, regim Suriah sangat dekat koneksinya dengan Iran. Jadi, kita bisa simpulkan sendiri posisi Iran di mata China, Rusia, dan regim Suriah.

Jadi kalau kemudian kita mendengar propaganda Syiah anti Yahudi, Syiah anti Amerika, Syiah anti Zionis, dan sebagainya…ya sudahlah, saya akan ketawa saja. Tidak usah dianggap serius. Anggaplah semua itu hanya “olah-raga kata-kata” saja (meminjam istilah seorang politisi busuk). Syiah selamanya akan berkawan dengan kaum kufar dan sangat apriori dengan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Mereka itu lahir dari sejarah kita, tetapi wujud dan hatinya milik orang kafir. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga kita semakin sadar, bahwa Syiah Rafidhah bukanlah kawan. Mereka membutuhkan istilah kawan selagi masih lemah. Nanti kalau sudah kuat, mereka akan menghancur-leburkan Ahlus Sunnah. Tetapi cukuplah Allah Ta’ala sebagai Wali, Pelindung, dan Penolong kita. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga. Walhamdulillahi Rabbil a’alamiin

Kasus Solo Bukan Terorisme Tetapi Operasi Intelijen

MT Arifin
(Pengamat Militer dan Intelijen)



Pengamat Militer dan Intelijen dari Solo, MT Arifin menceriterakan, pasca terjadinya penembakan mati terduga teroris di Solo, Farhan dan Mukhsin oleh pasukan Densus, Jum’at (31/8/2012), dirinya langsung diwawancarai oleh stasiun televisi swasta nasional dari Jakarta. Dalam wawancara itu dia mengemukakan bahwa kasus Solo itu bukanlah terorisme tetapi merupakan operasi intelijen.

Namun anehnya, sehari kemudian dirinya mendapat serangan santet yang datangnya dari arah Jakarta. “Alhamdulillah, serangan santet itu berhasil digagalkan,” ungkap MT Arifin yang juga memahami masalah supranatural tersebut. Pengamat Militer dan Intelijen itu tidak mau menduga-duga, siapa yang memerintahkan serangan jahat melalui ilmu hitam tersebut.

Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan MT Arifin seputar terorisme dan operasi intelijen untuk menciptakan keadaan dan mengalihkan isu krusial yang terjadi pada pemerintahan SBY.


Mengapa kelompok Islam selalu disebut teroris, sedangkan Kristen seperti RMS dan OPM separatis, padahal mereka lebih banyak menimbulkan korban bagi personil TNI dan Polri ?

Persoalan istilah teroris dan separatis bukan stigmatisasi terhadap kelompok yang melakukan perlawanan pada institusi resmi, tetapi didasarkan atas konsep politik yang berkaitan dengan sifat yang ingin dilakukan dengan melakukan tindakan itu. Separatis konsepnya berkaitan dengan pemisahan, misalnya suku atau daerah ingin memisahkan diri dari negara. Sedangkan teroris konsep politik yang berkaitan dengan tindakan kekerasan untuk membentuk opini publik dan melakukan tekanan terhadap kekuasaan. Jadi dasarnya adalah konsep politik.

Dalam konteks Kenegaraan, lebih berbahaya mana antara teroris dan separatis ?

Persoalannya bukan lebih berbahaya mana antara teroris dan separatis. Persoalannya adalah gerakan itu menimbulkan efek yang bagaimana. Kemudian akibat dari efek itu akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi politik tertentu. Kalau dulu sampai sekarang separatis dihadapi oleh angkatan perang, tetapi kalau teroris dihadapi polisi. Kalau sekarang separatis dihadapi polisi, itu tergantung UU. Misalnya, kalau dianggap sebagai suatu tindakan yang membuat kekacauan di masyakarat dimana law and order terganggu, biasanya dihadapi polisi. Tetapi kalau sudah perlawanan total secara resmi, maka akan dihadapi militer dan semuanya dipengaruhi UU yang berlaku.

Mengapa sasaran Densus selalu umat Islam, padahal Kristen juga banyak terorisnya seperti Laskar Kristus yang aktif melakukan latihan militer di berbagai tempat tetapi dibiarkan saja ?

Kalau dilihat secara keseluruhan sebenarnya tidak begitu, terbukti Tibo cs yang melakukan pembantaian terhadap umat Islam di Poso juga dihukum mati. Sebenarnya kalau dilihat dari segi hukum, siapapun dan apapun kelompok tanpa pandang bulu diberlakukan sama. Memang di Indonesia yang sering jadi sasaran adalah umat Islam karena mayoritas. Kemudian dilihat dari pergerakan dan sejarah serta rumusan yang ada di jaringan intelijen, yang menjadi sasaran berbahaya adalah umat Islam sejak kasus pemberontakan DI-TII pada masa Kartosoewirjo. Kalau saya baca di berbagai buku intelijen, memang berasal dari sana. Sehingga Islam menjadi satu corak yang dianggap sangat menonjol. Pertanyaannya, mengapa kelompok non Islam tidak melakukan itu, karena mungkin mereka tidak terlalu besar dan lebih banyak melakukan gerakan separatisme seperti RMS dan OPM. Sebenarnya umat Islam juga pernah melakukan gerakan separatisme seperti GAM di Aceh.

Saya kira juga dipengaruhi perkembangan di tingkat global, terutama munculnya terorisme di tingkat internasional akibat kegagalan menyelesaikan kasus Afghanistan, terutama setelah terjadinya perpecahan antara kelompok Mujahiddin dengan AS pasca kekalahan Uni Soviet di Afghanistan. Juga setelah terjadinya perbedaan pendapat antara AS dengan Irak masalah minyak yang menyebabkan terjadinya Perang Teluk Persia II setelah Irak menyerbu Kuwait (1990) sampai invasi pasukan AS ke Irak (2003) yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein. Memang setelah itu terjadi suatu pergerakan dimana Islam bangkit menjadi kekuatan pengontrol terhadap Pan Americanisme. Sehingga menjadi suatu merek yang sangat laik pasar dan itu berpengaruh terhadap Indonesia. Persoalannya, karena wilayah umat Islam di Timur Tengah kaya akan minyak bumi dan biaya produksinya sangatlah murah jika dibandingkan dengan wilayah lain yang biaya produksinya sangatlah tinggi, karena itulah wilayah umat Islam selalu menjadi sasaran negara lain.

Apa korelasi antara terorisme dengan persediaan minyak dunia ?

Tahun 2000 lalu ada pertemuan ahli intelijen internasional dari Barat yang membahas persoalan hubungan internasional, dimana dinyatakan bahwa dunia Barat sangat kritis akan kebutuhan minyak. Karena itu minyak bumi menjadi salah satu fokus persoalan hubungan antar bangsa dan kebetulan yang menjadi masalah adalah kontrol Islam atas Barat setelah bubarnya Uni Soviet. Kemudian Islam menjadi kekuatan utama yang akan mengontrol pada saat Barat melihat minyak sebagai fokus persoalan antar bangsa, karena itu menimbulkan terorisme internasional.

Kalau sebelumnya ada terorisme nasional yang melahirkan gerakan seperti IRA di Irlandia dan gelombang kedua melahirkan terorisme ideologis seperti Tentara Merah di Jepang dan Italia, sekarang terorisme internasional memperebutkan SDA strategis seperti minyak dan Islam menjadi kekuatan utamanya. Sehingga lahirlah Teori Samuel Huntington yang menganggap Islam sebagai musuh Barat setelah jatuhnya Uni Soviet. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap Indonesia yang memiliki ketergantungan bantuan, peralatan, kerjasama, pendidikan, pelatihan dan utang dari Barat.

Selama ini Densus dibentuk, dilatih serta dibiayai AS dan Australia. Bagaimana komentar Anda sebagai pengamat militer dan intelijen ?

Bukan dibiayai, justru kita yang minta bantuan kesana karena tidak memiliki dana. Ada sebuah kritikan yang berasal dari pengamat intelijen pada beberapa kasus terorisme. Katanya bukan untuk persoalan terorisme, tetapi untuk membentuk opini dan menghentak negara yang dijadikan sasaran donatur. Karena itu sekarang bukan persoalan teroris, sebab kalau dilihat dari standar terorisme secara internasional, teroris bukan seperti di Indonesia dimana mereka menembak dengan pistol. Jadi perlu adanya standar mana yang disebut teroris dan mana yang disebut kejahatan, jadi harus jelas. Sebab jika tidak, maka nanti kalau proyek yang laku teroris, maka semuanya akan dimasukkan ke dalam kerangka teroris.

Jadi semakin ramai teroris, semakin menguntungkan Densus ?

Persoalannya bukan Densus, tetapi pemerintah. Kebetulan dana yang masuk ke pemerintah sebagian dioperkan ke kepolisian melalui Densus. Itu kan kerjasama antara pemerintah, apalagi polisi berada di bawah Presiden. Jadi yang menjadi persoalan bukannya Densus, tetapi pemerintah. Polisi selalu menjadi sasaran, padahal polisi hanya menjalankan perintah siapa lagi kalau bukan dari Presiden, dimana sekarang kita sedang menjalankan sistem Presidensial. Polisi sebenarnya tidak punya apa-apa, seumpama disuruh ke Timur ya ke Timur, disuruh ke Barat ya ke Barat.

Mengapa BNPT dan Densus selalu dikendalikan mereka yang anti Islam seperti Ansyaad Mbai, Gories Mere dan Petrus Golose ?

Tidak begitu, aparat dasarnya adalah prestasi. Jadi persoalannya bukan Islam dan non Islam. Orang non Islam yang senang pada Islam juga banyak, sebaliknya orang Islam yang tidak Islamis juga banyak. Justru kadang-kadang kelemahan kita dalam melakukan penilaian selalu bertolak-belakang dari Islam dan non Islam. Bagaimanapun juga mereka tidak memiliki kekuasaan apa-apa kalau tidak diberi wewenang. Jadi persoalannya kelembagaan, yang bekerja bukan hanya dia tetapi sebuah tim besar. Banyak polisi yang Islamnya bagus, tetapi persoalannya adalah dalam rangka pengamanan lembaga negara.

Jadi muaranya tertuju pada Presiden ?

Muaranya pada misi dari sebuah nation yang ditafsirkan pemerintah. Semestinya yang bertanggungjawab adalah pemerintah, bukan polisi.

Bagaimana pandangan Anda mengenai Program Deradikalisasi yang digerakkan BNPT ?

Saya jelas tidak setuju, dalam arti titik tolaknya darimana. Persoalan radikal dan tidak radikal akan dipahami dari konteks pengetahuan dan sikap radikal karena apa. Dalam UU Politik ada persoalan yang dinyatakan radikal. Jadi sikap radikal itu bukan persoalan orang itu radikal atau tidak radikal, tetapi dibangun oleh pengetahuan terhadap perkembangan nasional dan internasional serta rasa kesadaran akan ketidakadilan. Misalnya, pemerintah dalam mengatasi persoalan dianggap tidak adil, maka ini yang membentuk sikap radikal.

Jadi persoalan deradikalisasi semestinya berkaitan dengan bagaimana pemerintah mencoba untuk melaksanakan tujuan pemerintahan mengenai keadilan, kesejahteraan rakyat, menegakkan kebenaran, menegakkan hukum dan sebagainya. Pada saat sekarang telah terjadi kesenjangan yang tajam, mengenai pandangan pemerintah dan sikap yang dimiliki kelompok Islam dan non Islam serta hubungan antar mereka. Kesenjangan itu dipengaruhi informasi yang dimiliki dan perubahan sosial yang tinggi. Hal itu menyebabkan ketajaman hubungan karena terjadinya revolusi kebudayaan, dimana di Indonesia terjadi pada saat era reformasi sekarang. Itu yang menimbulkan persoalan dan tidak diantisipasi dengan program politik yang sistematik. Berbeda dengan Korea Selatan, sudah diantisipasi sejak awal bagaimana mengatur anak-anak main games. Tetapi disini tidak dan ini yang menjadi masalah. Jadi persoalan radikal dan tidak radikal adalah persoalan proses yang dialami oleh warga negara dalam kehidupan bermasyarakat akibat adanya kesenjangan tertentu.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai rencana BNPT yang dipimpin Ansyaad Mbai untuk melakukan Sertifikasi Ulama ?

Saya kira itu tidak tepat, sertifikasi untuk apa ? Memang salah satu problem di kalangan ulama, da’i dan mubaligh adalah dalam menghadapi persoalan dimana banyak sekali pengajian yamg diberikan kelompok muda tamatan pesantren kilat. Hal ini juga terjadi di kalangan Kristen yang diberikan kelompok muda tamatan kursus Injil. Dalam memberikan ceramah, mereka belum sampai pada tingkat dengan wawasan luas, kemudian berceramah dengan sikap fanatik, dimana akhirnya menimbulkan hasil kontra produktif. Di kalangan pemuda Kristen yang fanatik juga banyak sekali dan saya mendapat laporan ini dari salah seorang pimpinan Univeristas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah. Jadi yang terdapat kelompok fanatik bukan hanya Islam saja tetapi juga Kristen. Tetapi masalahnya Islam di Indonesia mayoritas mutlak sehingga yang menonjol fanatismenya adalah Islam, padahal di Kristen juga banyak sekali yang fanatik dan fundamentalis. Fanatisme akibat itu semestinya dibicarakan dan diatasi masing-masing agama.

Apakah Sertifikasi Ulama yang akan dilakukan BNPT merupakan penghinan terhadap ulama ?

Saya kira itu tidak ada artinya. Sertifikasi biasanya pada program fungsional yang bersifat karier. Kalau ulama kan bukan jabatan karier. Sekarang persoalannya bagaimana strategi untuk menghadapi ekses-ekses itu.

Kembali ke terorisme, apakah operasi pemberantasan teroris yang digerakkan BNPT dan Densus memang proyek yang menguntungkan, dimana semakin banyak teroris yang berkeliaran maka semakin membuat kantong mereka tebal ?

Dulunya operasi semacam ini dilakukan militer dan intelijen. Jadi operasi anti terorisme bagi polisi adalah hal baru. Sekarang yang menjadi persoalan adalah bagaimana meningkatkan kinerja polisi agar menjadi lebih professional. Tetapi bukan berarti saya mengatakan kalau polisi sekarang tidak profesional dalam menanggani kasus terorisme. Namun berdasarkan kasus yang ada, seharusnya polisi meningkatkan profesionalismenya, sehingga tidak sering melakukan kesalahan target atau sasaran. Polisi juga perlu meningkatkan pemahaman terhadap penegakan hukum dan perlindungan HAM. Selain itu persoalan terorisme seharusnya dikaji dari persoalan yang lebih tinggi, bukan hanya linier.

Bagimana Anda melihat kasus penembakan mati terhadap terduga dua teroris oleh Densus di Solo baru-baru ini ?

Saya melihatnya itu operasi intelijen, bukan terorisme. Perkara kemudian dikaitkan dengan terorisme, itu bisa saja. Karena dalam operasi itu digunakan orang yang mau. Bedanya, operasi intelijen dimaksudkan untuk menciptakan suatu keadaan, tetapi kalau terorisme menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi suatu kebijakan. Banyak sekali kasus terorisme, tetapi kalau dilihat dari ilmu pengetahuan tentang terorisme, sesungguhnya bukan terorisme.

Kasus di Solo itu jelas merupakan operasi intelijen, jika dilihat dari sifat-sifatnya. Karena sekarang proyek yang paling laku dijual ya terorisme. Seorang teroris tidak mungkin mengaku dirinya sebagai teroris. Juga tidak mungkin teroris berkali-kali nongkrong pada satu tempat. Kalau teroris, begitu mengebom tidak akan kembali lagi ke tempat itu sampai puluhan tahun. Karena itu kita harus memperjelas, apa terorisme itu. Jangan sampai mendefinisikan terorisme dengan pola-pola kriminal. Sekarang yang terjadi di Indonesia, melihat terorisme sebagai pergerakan kriminal. Masak teroris hanya nongkrong disitu-situ saja, tidak berpindah-pindah tempat. Seharusnya teroris tidak seperti itu, karena konsekuensinya mati. Saya kira terorisme sebagai suatu cara untuk mengalihkan isu. Sebab kalau ada persoalan yang muncul di pemerintahan, maka untuk mengalihkan isu muncullah operasi pemberantasan terorisme. Kalau sudah begitu, semua media massa pasti akan melupakannya dan mengarahkannya kesana.

Kalau kasus penembakan mati dua orang terduga teroris di Solo, untuk mengalihkan isu yang mana di pemerintahan SBY ?

Kita lihat dari kategorinya, seperti kasus M Thoriq di Tambora, Jakarta. M Thoriq sudah diamati sejak setahun lalu, tetapi mereka baru menangkapnya pada saat diperlukan untuk mengalihkan isu. Seperti kasus Solo, adanya pemberitaan seorang anggota Densus yang mati tertembak tidak sebagaimana yang saya peroleh kabarnya. Juga kasus polisi yang tertembak di Prembun Purworejo beberapa waktu lalu. Kabarnya tertembaknya polisi tersebut hanya karena rebutan wanita, tetapi kemudian dikabarkan karena ditembak teroris. Waktu itu saya sudah protes pada salah seorang pejabat kepolisian di Polda Jateng, tetapi katanya sudah dilaporkan kasus yang sebenarnya ke Mabes Polri, tetapi ketika sampai di Jakarta ceriteranya jadi berubah menjadi kasus terorisme.

Banyaknya kasus terorisme, apa memang tujuannya untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia yang mayoritas ?


Persoalannya bukan umat Islam. Persoalannya kasus terorisme bisa digunakan untuk berbagai kepentingan. Seperti kepentingan untuk mengalihkan perhatian, peningkatan program sehingga mendapat dana yang besar, agar kinerjanya terlihat efektif dan sebagainya. Jadi kebetulan saja mereka latar belakangnya beragama Islam.

Mengapa setiap menjelang kedatangan pejabat tinggi AS ke Indonesia, selalu muncul kasus terorisme, seperti baru-baru ini menjelang kedatangan Menlu Hillary Clinton ?

Kalau itu bisa saja penafsiran-penafsiran, tetapi benar dan tidaknya kita tidak tahu. Karena dalam kasus terorisme di Indonesia sering kali terjadi kekurangan data, maka perlu dibuat data baru, sehingga dalam berbagai kasus terjadi seperti itu.

Bagaimana menurut Anda, sikap umat Islam Indonesia dalam menghadapi kasus terorisme yang sering terjadi ?

Pertama, media massa tidak memberitakan tentang terorisme dan penyelesaiannya. Kedua, umat Islam sebaiknya bersikap tidak reaktif. Sebab kalau bersikap reaktif maka ibarat paling enak dioper bola, pasti akan memburu. Jadi begitu ada isu terorisme muncul, pasti ada masalah yang sangat kritis di pemerintahan. Jadi sepertinya umat Islam tidak terkendali dan paling mudah dioper bola agar memburunya. Ketiga, umat Islam perlu mengetahui berbagai informasi strategis.

Sebab salah satu permasalahan yang dihadapi umat Islam Indonesia sehingga mudah menjadi radikal adalah karena membaca buku-buku terjemahan dari luar yang sangat berbeda dengan kondisi dan situasi di Indonesia. Pasalnya, ketika agama jauh dari kajian kebudayaan, maka akan cenderung radikal. Sebaliknya, tatkala agama dikembangkan atas dasar pergulatan antara masyarakatnya dengan kebudayaan, maka akan cenderung tidak radikal, sebagaimana dakwah yang dikembangkan para Wali Songo dengan melalui pendekatan kebudayaan.

Abdul Halim