IMAM SUPRIADI UNTUK INDONESIA

9 Jul 2014

Jokowi, Siapa yang Berbohong di Bulan Puasa?

Jokowi, Siapa yang Berbohong di Bulan Puasa?

JAKARTA (voa-islam.com) - Berbagai kasus membuktikan Joko Widodo alias Jokowi, Gubernur Jakarta dan Calon Presiden PDIP itu mau berbohong. Nampaknya, nampaknya suka 'bohong' sudah menjadi 'habit' (kebiasaan), tidak berjiwa kastria.
 
‘’Arah kemenangan sepenuhnya ada pada Prabowo. Jokowi telah kalah dan dia kalah dengan cepat’’ kata Doug Ramage, analisis pasar modal dari Bower GroupAsia di Jakarta, sebagaimana disiarkan  The Wall Street Journal, media Hongkong itu, 29 Juni lalu. Berbagai survei yang diumumkan menjelang pemilihan presiden 9 Juli ini, juga memperlihatkan kecendrungan  Prabowo Subianto-Hatta akan memenangkan pertarungan.

Yang menarik, 3 bulan lalu, Joko Widodo alias Jokowi masih memimpin persaingan untuk menjadi  Presiden Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India. Sebelumnya selama sekitar 2 tahun nama Jokowi, Walikota Solo, kota kecil di Jawa Tengah itu, betul-betul meroket seakan ‘’manusia ajaib’’.
Padahal tak ada prestasi Jokowi yang istimewa. Ia tak ada apa-apanya dibanding Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang menghias kota pelabuhan di Jawa Timur itu dengan taman-taman yang indah. Sementara Solo di tangan Jokowi tetap saja sebuah kota kecil yang gersang.
Tapi Jokowi jadi buah bibir berkat pemberitaan media yang terus-menerus memujanya. Media membentuk gambaran (image) seolah-olah Jokowi seorang pejabat yang jujur, merakyat, dan menyayangi rakyat kecil, suka blusukan, serta memiliki kecerdasan dan kreativitas yang luas biasa.
Coba, nama Jokowi meroket sampai ke Jakarta pertama kali sebagai Walikota yang memacu kreativitas siswa SMK 2 Solo sehingga berhasil membuat mobil. Jakarta geger ketika mobil siswa SMK itu dipacu dari Solo ke Jakarta. Pemberitaan media meledak pada waktu itu di tahun 2012. Para pejabat, pengusaha, pengamat, dan selebritis, berlomba-lomba memesan mobil buatan Solo itu. Kemudian apa yang terjadi?
Ternyata mobil SMK itu adalah proyek kebohongan besar Jokowi. Mobil itu bukan buatan siswa SMK 2
Ternyata mobil SMK itu adalah proyek kebohongan besar Jokowi. Mobil itu bukan buatan siswa SMK 2 (Sekolah Menengah Kejuruan) Solo, tapi diimpor secara terpisah oleh teman-teman Jokowi. Mobil itu sesungguhnya merk Foday buatan China. Pembohongan publik ini terbongkar karena Jokowi konflik dengan H.Sukiyat, pemilik bengkel di Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, tempat mobil impor dari China itu dirakit H.Sukiyat kemudian buka mulut soal mobil impor dari China itu.
Anehnya, meski proyek pembohongan masyarakat itu telah ketahuan, Jokowi yang ketika itu  sudah meloncat dari Walikota Solo jadi Gubernur Ibukota Jakarta, tak menerima risiko apa pun. Masyarakat tak menuntut Jokowi untuk bertanggung jawab atas kebohongan itu. Media massa yang sebelumnya riuh-rendah mengampanyekan mobil SMK kemudian senyap begitu saja. Tak ada yang meminta Jokowi harus bertanggung-jawab atas semua kebohongan itu.
Aneh bin ajaib. Sebagai seorang yang berpuluh tahun pernah hidup sebagai wartawan saya tak bisa mengerti bagaimana pers terus-menerus mengelu-elukan Jokowi setelah terbukti proyek mobil SMK itu hanya ‘’tipu-tipu’’ semata. Biasanya wartawan adalah kelompok manusia kritis yang tak gampang percaya kepada siapa pun. Apalagi percaya kepada seseorang yang terbukti telah berbohong.
Tapi nyatanya sekarang Jokowi sudah menjadi calon Presiden Republik Indonesia. Dia dicalonkan PDIP, PKB, Nasdem, Hanura, dan partai tak lolos treshold  PKPI pimpinan Sutiyoso, bekas Gubernur Jakarta. Tak kepalang tanggung, selain MetroTV milik Surya Paloh, pimpinan Nasdem itu, media yang mendukung Jokowi adalah Kompas dan groupnya serta majalah TEMPO.
Aneh bagaimana orang-orang Kompas, koran Katolik itu, dan TEMPO yang sekuler, bisa menerima seorang calon Presiden seperti Jokowi, setelah terbongkarnya proyek mobil SMK yang penuh kebohongan.
Dan lagi-lagi keanehan terjadi. Meski sudah jadi calon Presiden tak satu pun media yang mempersoalkan proyek ‘’tipu-tipu’’ mobil SMK. Sementara pesaingnya sebagai Capres, Prabowo Subianto, bekas Komandan Jenderal Kopassus, bekas Panglima Kostrad, yang diberhentikan dengan hormat oleh Presiden B.J.Habibie dalam gonjang-ganjing politik tahun 1998, justru terus-menerus jadi sorotan dan serangan media. Bekas mantu Pak Harto itu, dipersoalkan sebagai bertanggung jawab atas kasus penculikan 9 aktivis di tahun 1998.
Menggunakan ukuran pada waktu itu, sebenarnya 9 aktivis itu bukan diculik melainkan ditangkap dan ditahan. Sejumlah anggota Kopassus yang terlibat dalam peristiwa itu telah diadili dan dihukum. Di pengadilan mereka terus-terang mengaku bertindak atas insiatif sendiri, tanpa ada perintah atasan, apalagi perintah Prabowo selaku Komandan Jenderal Kopassus.
 
HABIBIE TAK SAMPAI HATI
Sebelum reformasi 1998 yang disebut zaman Orde Baru, institusi militer berhak dan biasa saja menangkap dan menahan orang. Kodim, Korem, Kodam, atau Mabes ABRI dan institusinya biasa saja menangkap dan menahan orang di masa itu. Jadi 9 aktivis itu  sesungguhnya ditangkap dan ditahan Kopassus. Istilah penculikan digunakan setelah zaman reformasi karena mereka ditangkap dan ditahan tanpa surat perintah dan penahanan, dan oleh institusi yang tak berhak untuk menangkap dan menahan mereka.
Tapi mengapa Prabowo harus bertanggungjawab sekali pun di pengadilan terbukti dia tak terlibat? Ini soal persaingan Prabowo dengan Wiranto. Prabowo adalah mantu Presiden Soeharto, sementara Jenderal Wiranto dikenal punya hubungan dekat dengan putra-putri Pak Harto. Ketika itu dia akrab dengan Tomy Soeharto, Bambang, dan Mami Soeharto.
Dengan modal itu Wiranto yang semula ajudan Pak Harto meroket menjadi Pangdam Jaya, Kasad, dan Panglima ABRI. Dengan karirnya yang cepat itu (meski tanpa prestasi yang konkret) dia bersaing dengan Prabowo Subianto. Prabowo seorang yang sangat cerdas. Prestasinya terus-terusan bersinar.
Bersama pasukannya dia berhasil menyergap Nicolai Lobato, Wakil Panglima Fretelin di Timor Timur, dan kemudian Xanana Gusmao, Panglima Fretelin.
Dia pula bersama pasukannya berhasil dengan sukses membebaskan sejumlah peneliti asing yang disandera gerombolan OPM di belantara Papua.
Aksi ini mendapat pujian internasional sehingga nama Kopassus dan Prabowo pun menjulang. Nama Kopassus kian melambung setelah berhasil mendaki dan menaklukkan puncak Gunung Everest (bahasa Inggris: Mount Everest) di Himalaya.
Ketika pecah reformasi 1998, Presiden Soeharto mengundurkan diri di tengah maraknya demonstrasi mahasiswa, digantikan wakilnya B.J.Habibie. Jenderal Wiranto diangkat menjadi Panglima ABRI. Dalam keadaan di atas angin itulah Wiranto membentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP) untuk mengusut kasus penculikan tadi. Ini jelas langkah Wiranto guna menghabisi pesaingnya, Prabowo.
Habibie rupanya tak sampai hati karena tampaknya dia tahu juga langkah Wiranto untuk menghabisi saingannya.
Habibie rupanya tak sampai hati karena tampaknya dia tahu juga langkah Wiranto untuk menghabisi saingannya. Dalam keputusannya sebagai presiden, Habibie memberhentikan Prabowo dengan hormat dan diberi pula hak pensiun.
Jelas Jenderal Wiranto menggunakan isu penculikan itu untuk menghabisi Prabowo.
Buktinya, Wiranto hanya membentuk DKP untuk kasus penculikan 9 aktivis, meski pun para aktivis itu semua sehat walafiat – malah 2 di antaranya sekarang menjadi anggota DPR-RI. Kalau benar untuk memenuhi tuntutan reformasi mengapa Wiranto tak membentuk DKP untuk mengadili berbagai kasus pelanggaran hukum dan HAM lainnya di zaman Orde Baru?
Misalnya, untuk kasus pembantaian Lampung yang menyebabkan sekitar 400 nyawa melayang. Yang bertanggung jawab dalam pelanggaran HAM dengan korban terbesar di masa Orde Baru ini adalah Hendropriyono, Komandan Korem Lampung pada waktu itu.
Kini Hendropriyono, Kepala BIN di zaman Presiden Megawati, menjadi salah satu tim sukses Joko Widodo bersama Wiranto.
Atau mengapa Wiranto tak membentuk DKP untuk kasus penembakan misterius yang menyebabkan ratusan, bahkan mungkin ribuan rakyat terbunuh? Presiden Soeharto sendiri di dalam sebuah bukunya mengakui terjadinya Petrus, eksekusi terhadap orang-orang yang dituduh preman tanpa dibawa ke pengadilan.
Oleh karena itulah agaknya, sekali pun Prabowo Subianto, calon presiden yang didukung Partai Gerindra, Golkar, PKS, PPP, dan sejumlah partai lainnya, terus-menerus diserang dengan isu penculikan aktivis, dukungan rakyat terhadapnya terus naik. Menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2014, berbagai survei memperlihatkan kemenangan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.
Media Hongkong The Wall Street Journal tadi menyebutkan rumor yang beredar bahwa Jokowi seorang keturunan China dan beragama Kristen menjadi penyebab anjloknya dukungan rakyat terhadap calon Presiden nomor urut 2 itu. Langkah Jokowi membantah rumor itu malah menyebabkan isu tambah menyebar di masyarakat.
Ketika masa kampanye berakhir, Jokowi pun langsung berangkat umroh ke Tanah Suci Mekkah. Tampaknya ini pun masih merupakan upaya Jokowi membantah isu tadi. Maka fotonya memakai baju Ihram di Kota Suci Mekkah segera ditampilkan MetroTV, media pendukung fanatik Jokowi. Sayang Jokowi salah memakai baju itu sehingga tampak terbalik. Ada yang bilang karena baju ihram itu umrah Jokowi tak sah. Ada yang bilang tak ada masalah.
Yang lebih merepotkan, dukungan partainya, PDIP, dalam pencalonan Jokowi tampak setengah hati. Tim Suksesnya juga dikabarkan bekerja tak maksimal. Ini menyebabkan kampanye-kampanye Jokowi kurang semarak.
Lebih berat lagi adalah isu ketidak-mampuan Jokowi menjadi presiden sebuah negara besar seperti Indonesia dengan 240 juta penduduk. Soalnya, menjadi Gubernur Jakarta saja selama 2 tahun ini, Jokowi sudah menghadapi banyak masalah. Paling menonjol adalah kasus impor bus berkarat dari China bernilai Rp 1,5 trilyun yang kini ditangani Kejaksaan Agung.
Selain itu Jokowi sudah terbukti mau berbohong – selain kasus mobil SMK tadi -- dan itu tentu saja menjadi masalah besar bila dia terpiliah menjadi Presiden. Pelaksana tugas (plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) justru orang yang mengungkapkan kebohongan Joko Widodo alias Jokowi.
Ketika bersilaturahim ke Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Kelurahan Sumelap, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis 12 Juni 2014, Jokowi menyatakan kepada para santri dan kiai bahwa ia telah menyerahkan beberapa dokumen kasus bus Transjakarta ke KPK. "Waktu ada berita mengenai bus Transjakarta, detik itu juga kepala dinasnya langsung saya copot. Kemudian dokumen-dokumen yang ada langsung kami berikan ke KPK," ujar Jokowi.

Padahal menurut Ahok, Pemda DKI Jakarta belum pernah melapor atau memberikan surat resmi tentang bus Transjakarta ke KPK. "Pak Jokowi enggak pernah lapor KPK (soal kasus Bus Transjakarta). Enggak ada surat resmi," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, 25 Juni lalu.
Sebelumnya, KPK sendiri telah menyatakan Jokowi tak pernah melaporkan dugaan adanya korupsi dalam pengadaan Bus Transjakarta. "Mereka tak pernah melaporkan," kata Johan Budi, Juru Bicara KPK, 17 Juni 2014.
Soalnya, teman dekat Jokowi sesama pedagang mebel di Solo, Bimo Putranto, terlibat dalam impor bus China. Maka Jokowi pun tampaknya akan tersangkut dalam kasus ini. Ternyata bukan kali ini saja Jokowi berbohong. Menurut Fahri Hamzah, tokoh PKS yang menjadi Tim Sukses Prabowo-Hatta, dalam debat Calon Presiden-Wakil Presiden Minggu, 6 Juli lalu, Jokowi melakukan sejumlah kebohongan. ‘’Tak bermaksud mau mengganggu minggu tenang tapi karena media terus menyiarkan sesuatu yang dusta maka itu perlu diluruskan,’’ kata Fahri.
Dalam debat itu Jokowi membantah pernyataan Prabowo Subianto bahwa dia pernah berpidato dalam suatu acara mengatakan tak setuju adanya koperasi untuk petani.  "Mestinya Jokowi tak boleh membantah karena dia sudah mengatakan tak setuju koperasi untuk petani. Dia sudah mengatakan itu dan jelas tertulis di koran-koran," kata Fahri.

Kebohongan Jokowi lainnya, kata Fahri, Kota Solo ketika dipimpin Jokowi tak pernah meraih penghargaan Green City dari Kementerian Lingkungan Hidup. Saat debat capres, 5 Juli 2014, calon wakil presiden nomor urut 1 Hatta Rajasa bertanya kepada Jokowi: mengapa Kota Solo tak pernah meraih penghargaan. 

Jokowi menjawab: "Solo pernah mendapat penghargaan Green City dari Kementerian Lingkungan Hidup, bisa dicek." Padahal setelah dicek diketahui Kementerian Lingkungan Hidup tak pernah memberikan penghargaan dimaksud ke Solo. ‘’Dan memang kategori itu tak ada,’’ kata Fahri Hamzah, "Saya harap, Jokowi jangan suka bohong di bulan puasa, karena itu bisa membatalkan puasa.’’
Penulis: Amran Nasution -  Mantan Redaktur Pelaksana Tempo
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/07/08/31457/jokowi-siapa-yang-berbohong-di-bulan-puasa/#sthash.pJoLgAXB.dpuf

Reaksi:

0 komentar:

Al-Qur'an Digital

Terjemah

Barat Bungkam terhadap Nuklir Zionis

Syi'ah Tak Pernah Berperang Melawan Israel

Oleh, AM Waskito

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah Rafidhah selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

Sejarah Syiah: "Selalu Menusuk Ahlus Sunnah dari Belakang. Dan Tak Pernah Perang Melawan Orang Kafir."
[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis agama Persia (Syiah Rafidhah) ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu.

Lalu bagaimana pandangan kita sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?

Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…

PERTAMA. Kaum Syiah Rafidhah itu terus bekerja keras dan sangat nafsu, agar mereka tetap diakui sebagai Islam, tetap dipandang sebagai Muslim, tetap menjadi bagian dari kaum Muslimin sedunia. Hal ini adalah hakikat siksaan spiritual yang Allah timpakan atas hati-hati mereka, selamanya. Mereka telah sangat berdosa karena mencaci, melecehkan, mengutuk, dan mendoakan keburukan atas isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Maka Allah pun menjadikan mereka selalu gelisah, takut, dan sangat menginginkan diberi label Islam atau Muslim. Mereka selalu dalam kebingungan seperti ini, layaknya Bani Israil yang kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih, karena telah menghina Musa ‘Alaihissalam dan Allah Ta’ala. Lihatlah manusia-manusia pemeluk agama Persia (Rafidhah) itu…mereka kemana-mana membawa laknat atas doa-doa laknat yang mereka bacakan untuk mengutuki manusia-manusia terbaik dari para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

KEDUA. Dalam sejarahnya, sejak zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sampai hari ini, ketahuilah bahwa Syiah Rafidhah (agama Persia) ini tidak pernah berjihad melawan kaum kufar, baik itu Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan orang-orang atheis. Syiah tidak punya sejarah jihad menghadapi kaum kufar. “Jihad” kaum Syiah sebagian besar diarahkan untuk menyerang kaum Sunni, sejak zaman dahulu sampai saat ini.

Mula-mula Syiah di Kufah mengundang Husein Radhiyallahu ‘Anhu datang ke Kufah, katanya mau dibaiat. Karena Husein sudah berangkat ke Kufah, oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) Husein dianggap bughat, sehingga boleh ditumpas. Waktu tiba di Kufah, tak satu pun kaum Syiah keluar untuk membaiat, menolong dan mendukung Husein. Posisi Husein sangat terjepit, akan kembali ke Madinah, dia sudah dianggap bughat. Meminta bantuan Kufah, tak satu pun Syiah yang akan menolong. Akhirnya, Husein ditumpas di Padang Karbala. Bahkan kala penumpasan itu, tak satu pun hidung Syiah menampakkan diri, walau sekedar untuk menolong korban dari pihak Husein dan keluarganya. Nah, peristiwa pembantaian Husein oleh kaum Syiah itulah yang selalu mereka rayakan dan nikmati dalam momen-momen Asyura. Air mata mereka mengutuk para pembunuh Husein, sedangkan hati mereka berucap: “Alhamdulillah Husein dan keluarganya telah binasa di Karbala.”

“Jihad” kaum Syiah berikutnya ialah membantu Hulagu Khan (penguasa Mongol) untuk menumpas Khilafah Abbassiyah. Kemudian mereka berusaha melenyapkan kaum Sunni di Mesir, tetapi berhasil ditumpas oleh Nuruddin Mahmud Zanki. Mereka terus menikam perjuangan Shalahuddin Al Ayyubi. Mereka juga selalu menjadi musuh Khilafah Turki Utsmani, selalu kerjasama dengan negara-negara Nashrani Eropa untuk melemahkan Khilafah Turki. Di zaman kontemporer, Revolusi Khomeini di Iran telah menumpas Ahlus Sunnah di Iran. Mereka juga menikam perjuangan mujahidin di Afghanistan. Mereka membantai Ahlus Sunnah di Irak, Libanon, Suriah, Yaman, bahkan mereka hampir menguasai Bahrain.

Singkat kata, tidak ada Jihad kaum Syiah dalam sejarah, selain “jihad” yang diarahkan untuk memusnahkan dan menghancur-leburkan kaum Sunni. Sejarah klasik dan modern sudah memaparkan fakta. Bahkan dalam kasus Iran Contra Gate terbongkar skandal besar. Ternyata, di balik gerakan Kontra di Nikaragua, Amerika memasok senjata kepada para gerilyawan itu. Darimana dananya? Dari hasil kerjasama jual-beli minyak dengan Iran. Padahal dalam kampanye dunia, sudah dimaklumkan bahwa Amerika itu sedang konflik dengan Iran. Tetapi di balik itu ada sandiwara “jual-beli minyak” yang menggelikan. Kasus ini sangat terkenal, sehingga seorang kolonel Amerika dikorbankan sebagai tumbalnya.

KETIGA. Apa sih yang dilakukan Hizbullah (Syiah Rafidhah) di Libanon kepada Israel? Apakah dia terlibat perang terbuka dengan Israel? Apakah dia menduduki wilayah Israel dan berusaha mengusir penduduk Yahudi? Ternyata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya melepaskan tembakan mortir ke arah pasukan Israel atau wilayah Israel. Atau mereka melakukan tembakan senapan, atau tembakan rudal anti tank. Hanya itu saja. Mereka tidak pernah terlibat perang terbuka vis a vis, seperti para pejuang Ahlus Sunnah di Irak, Afghanistan, Chechnya dan lainnya. Jadi singkat kata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya semacam “main-main” untuk membuang amunisi-amunisi ringan. Itu saja kok.

KEEMPAT. Dalam sejarah perang Arab-Israel, sejak merdeka tahun 1948 Israel sudah berkali-kali bertempur dengan pasukan Arab. Yang terkenal adalah perang tahun 48, perang tahun 67, dan perang tahun 70-an. Ia kerap disebut perang Arab-Israel. Setelah itu belum ada lagi perang yang significant. Dalam sejarah ini, lagi-lagi tiada peranan Iran sama sekali. Bahkan ketika Ghaza dihancur-leburkan Israel pada tahun 2008-2009 lalu, Iran lagi-lagi tidak terlibat apa-apa. Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari manusia-manusia pemeluk agama Persia (Syiah Rafidhah) itu?

KELIMA. Menurut Ustadz Farid Okbah, di Iran itu sangat banyak orang-orang Yahudi. Menurut informasi, jumlahnya bisa mencapai 50.000 jiwa. Mereka bisa hidup aman dan sentosa di Iran, sedangkan Ahlus Sunnah hidupnya sangat menderita disana. Iran bersikap welcome kepada kaum Yahudi, dan sangat ofensif kepada kaum Muslimin. Ini adalah realitas yang sangat menyedihkan. Makanya tidak salah kalau ada yang mengatakan, Rafidhah lebih sadis dari orang-orang kafir lain.

Contoh yang sangat unik ialah kerjasama antara Hamas dan Iran. Banyak orang menyebutkan, Hamas kerap kerjasama dengan Iran. Hal itu konon berdasarkan sikap Syaikh Al Bana yang dulunya pernah berujar, bahwa Syiah adalah sesama saudara Muslim juga. Mereka sama-sama Ahlul Qiblah. Tetapi realitasnya, Ikhwanul Muslimin di Suriah dibantai puluhan ribu manusia disana oleh regim Hafezh Assad. Ternyata, regim itu dan anaknya, dibantu oleh Iran juga. Nah, ini kan sangat ironis. Hamas kerjasama dengan Iran, sementara Al Ikhwan di Suriah dibantai oleh regim Suriah yang didukung oleh Iran.

KEENAM. Propaganda bahwa Syiah Rafidhah itu musuh Zionis Israel, semua ini hanya propaganda belaka. Sejatinya mereka itu teman-karib, sahabat dekat, saling tolong-menolong, sebagian menjadi wali atas sebagian yang lain. Mereka ini selamanya tak akan pernah terlibat dalam peperangan. Kaum Yahudi membutuhkan Iran, sebagai seteru Ahlus Sunnah. Sedangkan Iran membutuhkan Yahudi, juga sebagai seteru Ahlus Sunnah. Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwa kelak dajjal akan muncul dari Isfahan (salah satu kota di Iran yang saat ini banyak dihuni Yahudi) dengan 70.000 pasukan. Yahudi membutuhkan Iran, karena darinya akan muncul pemimpin mereka. Dan dalam literatur-literatur Syiah, sosok dajjal itu sebenarnya adalah sosok “Al Mahdi Al Muntazhar” yang selalu mereka tunggu-tunggu. Begitulah, banyak kesamaan kepentingan antara Syiah dan Yahudi.

KETUJUH. Fakta berikutnya yang sangat mencengangkan. Ternyata Syiah Iran juga menjalin kerjasama dengan China dan Rusia, dua negara dedengkotnya Komunis. Mereka ini umumnya kerjasama dalam soal industri, perdagangan, dan jual-beli senjata. Ketika Amerika berniat menjatuhkan sanksi akibat instalasi nuklir Iran, segera China dan Rusia memveto niatan itu. Kedua negara terang-terangan membela Iran. Begitu juga China dan Rusia juga membela regim Bashar Assad (semoga Allah Al Aziz segera memecahkan kepala manusia durjana satu ini, amin ya Mujibas sa’ilin) dari ancaman sanksi internasional. Sedangkan kita tahu, regim Suriah sangat dekat koneksinya dengan Iran. Jadi, kita bisa simpulkan sendiri posisi Iran di mata China, Rusia, dan regim Suriah.

Jadi kalau kemudian kita mendengar propaganda Syiah anti Yahudi, Syiah anti Amerika, Syiah anti Zionis, dan sebagainya…ya sudahlah, saya akan ketawa saja. Tidak usah dianggap serius. Anggaplah semua itu hanya “olah-raga kata-kata” saja (meminjam istilah seorang politisi busuk). Syiah selamanya akan berkawan dengan kaum kufar dan sangat apriori dengan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Mereka itu lahir dari sejarah kita, tetapi wujud dan hatinya milik orang kafir. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga kita semakin sadar, bahwa Syiah Rafidhah bukanlah kawan. Mereka membutuhkan istilah kawan selagi masih lemah. Nanti kalau sudah kuat, mereka akan menghancur-leburkan Ahlus Sunnah. Tetapi cukuplah Allah Ta’ala sebagai Wali, Pelindung, dan Penolong kita. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga. Walhamdulillahi Rabbil a’alamiin

Kasus Solo Bukan Terorisme Tetapi Operasi Intelijen

MT Arifin
(Pengamat Militer dan Intelijen)



Pengamat Militer dan Intelijen dari Solo, MT Arifin menceriterakan, pasca terjadinya penembakan mati terduga teroris di Solo, Farhan dan Mukhsin oleh pasukan Densus, Jum’at (31/8/2012), dirinya langsung diwawancarai oleh stasiun televisi swasta nasional dari Jakarta. Dalam wawancara itu dia mengemukakan bahwa kasus Solo itu bukanlah terorisme tetapi merupakan operasi intelijen.

Namun anehnya, sehari kemudian dirinya mendapat serangan santet yang datangnya dari arah Jakarta. “Alhamdulillah, serangan santet itu berhasil digagalkan,” ungkap MT Arifin yang juga memahami masalah supranatural tersebut. Pengamat Militer dan Intelijen itu tidak mau menduga-duga, siapa yang memerintahkan serangan jahat melalui ilmu hitam tersebut.

Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan MT Arifin seputar terorisme dan operasi intelijen untuk menciptakan keadaan dan mengalihkan isu krusial yang terjadi pada pemerintahan SBY.


Mengapa kelompok Islam selalu disebut teroris, sedangkan Kristen seperti RMS dan OPM separatis, padahal mereka lebih banyak menimbulkan korban bagi personil TNI dan Polri ?

Persoalan istilah teroris dan separatis bukan stigmatisasi terhadap kelompok yang melakukan perlawanan pada institusi resmi, tetapi didasarkan atas konsep politik yang berkaitan dengan sifat yang ingin dilakukan dengan melakukan tindakan itu. Separatis konsepnya berkaitan dengan pemisahan, misalnya suku atau daerah ingin memisahkan diri dari negara. Sedangkan teroris konsep politik yang berkaitan dengan tindakan kekerasan untuk membentuk opini publik dan melakukan tekanan terhadap kekuasaan. Jadi dasarnya adalah konsep politik.

Dalam konteks Kenegaraan, lebih berbahaya mana antara teroris dan separatis ?

Persoalannya bukan lebih berbahaya mana antara teroris dan separatis. Persoalannya adalah gerakan itu menimbulkan efek yang bagaimana. Kemudian akibat dari efek itu akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi politik tertentu. Kalau dulu sampai sekarang separatis dihadapi oleh angkatan perang, tetapi kalau teroris dihadapi polisi. Kalau sekarang separatis dihadapi polisi, itu tergantung UU. Misalnya, kalau dianggap sebagai suatu tindakan yang membuat kekacauan di masyakarat dimana law and order terganggu, biasanya dihadapi polisi. Tetapi kalau sudah perlawanan total secara resmi, maka akan dihadapi militer dan semuanya dipengaruhi UU yang berlaku.

Mengapa sasaran Densus selalu umat Islam, padahal Kristen juga banyak terorisnya seperti Laskar Kristus yang aktif melakukan latihan militer di berbagai tempat tetapi dibiarkan saja ?

Kalau dilihat secara keseluruhan sebenarnya tidak begitu, terbukti Tibo cs yang melakukan pembantaian terhadap umat Islam di Poso juga dihukum mati. Sebenarnya kalau dilihat dari segi hukum, siapapun dan apapun kelompok tanpa pandang bulu diberlakukan sama. Memang di Indonesia yang sering jadi sasaran adalah umat Islam karena mayoritas. Kemudian dilihat dari pergerakan dan sejarah serta rumusan yang ada di jaringan intelijen, yang menjadi sasaran berbahaya adalah umat Islam sejak kasus pemberontakan DI-TII pada masa Kartosoewirjo. Kalau saya baca di berbagai buku intelijen, memang berasal dari sana. Sehingga Islam menjadi satu corak yang dianggap sangat menonjol. Pertanyaannya, mengapa kelompok non Islam tidak melakukan itu, karena mungkin mereka tidak terlalu besar dan lebih banyak melakukan gerakan separatisme seperti RMS dan OPM. Sebenarnya umat Islam juga pernah melakukan gerakan separatisme seperti GAM di Aceh.

Saya kira juga dipengaruhi perkembangan di tingkat global, terutama munculnya terorisme di tingkat internasional akibat kegagalan menyelesaikan kasus Afghanistan, terutama setelah terjadinya perpecahan antara kelompok Mujahiddin dengan AS pasca kekalahan Uni Soviet di Afghanistan. Juga setelah terjadinya perbedaan pendapat antara AS dengan Irak masalah minyak yang menyebabkan terjadinya Perang Teluk Persia II setelah Irak menyerbu Kuwait (1990) sampai invasi pasukan AS ke Irak (2003) yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein. Memang setelah itu terjadi suatu pergerakan dimana Islam bangkit menjadi kekuatan pengontrol terhadap Pan Americanisme. Sehingga menjadi suatu merek yang sangat laik pasar dan itu berpengaruh terhadap Indonesia. Persoalannya, karena wilayah umat Islam di Timur Tengah kaya akan minyak bumi dan biaya produksinya sangatlah murah jika dibandingkan dengan wilayah lain yang biaya produksinya sangatlah tinggi, karena itulah wilayah umat Islam selalu menjadi sasaran negara lain.

Apa korelasi antara terorisme dengan persediaan minyak dunia ?

Tahun 2000 lalu ada pertemuan ahli intelijen internasional dari Barat yang membahas persoalan hubungan internasional, dimana dinyatakan bahwa dunia Barat sangat kritis akan kebutuhan minyak. Karena itu minyak bumi menjadi salah satu fokus persoalan hubungan antar bangsa dan kebetulan yang menjadi masalah adalah kontrol Islam atas Barat setelah bubarnya Uni Soviet. Kemudian Islam menjadi kekuatan utama yang akan mengontrol pada saat Barat melihat minyak sebagai fokus persoalan antar bangsa, karena itu menimbulkan terorisme internasional.

Kalau sebelumnya ada terorisme nasional yang melahirkan gerakan seperti IRA di Irlandia dan gelombang kedua melahirkan terorisme ideologis seperti Tentara Merah di Jepang dan Italia, sekarang terorisme internasional memperebutkan SDA strategis seperti minyak dan Islam menjadi kekuatan utamanya. Sehingga lahirlah Teori Samuel Huntington yang menganggap Islam sebagai musuh Barat setelah jatuhnya Uni Soviet. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap Indonesia yang memiliki ketergantungan bantuan, peralatan, kerjasama, pendidikan, pelatihan dan utang dari Barat.

Selama ini Densus dibentuk, dilatih serta dibiayai AS dan Australia. Bagaimana komentar Anda sebagai pengamat militer dan intelijen ?

Bukan dibiayai, justru kita yang minta bantuan kesana karena tidak memiliki dana. Ada sebuah kritikan yang berasal dari pengamat intelijen pada beberapa kasus terorisme. Katanya bukan untuk persoalan terorisme, tetapi untuk membentuk opini dan menghentak negara yang dijadikan sasaran donatur. Karena itu sekarang bukan persoalan teroris, sebab kalau dilihat dari standar terorisme secara internasional, teroris bukan seperti di Indonesia dimana mereka menembak dengan pistol. Jadi perlu adanya standar mana yang disebut teroris dan mana yang disebut kejahatan, jadi harus jelas. Sebab jika tidak, maka nanti kalau proyek yang laku teroris, maka semuanya akan dimasukkan ke dalam kerangka teroris.

Jadi semakin ramai teroris, semakin menguntungkan Densus ?

Persoalannya bukan Densus, tetapi pemerintah. Kebetulan dana yang masuk ke pemerintah sebagian dioperkan ke kepolisian melalui Densus. Itu kan kerjasama antara pemerintah, apalagi polisi berada di bawah Presiden. Jadi yang menjadi persoalan bukannya Densus, tetapi pemerintah. Polisi selalu menjadi sasaran, padahal polisi hanya menjalankan perintah siapa lagi kalau bukan dari Presiden, dimana sekarang kita sedang menjalankan sistem Presidensial. Polisi sebenarnya tidak punya apa-apa, seumpama disuruh ke Timur ya ke Timur, disuruh ke Barat ya ke Barat.

Mengapa BNPT dan Densus selalu dikendalikan mereka yang anti Islam seperti Ansyaad Mbai, Gories Mere dan Petrus Golose ?

Tidak begitu, aparat dasarnya adalah prestasi. Jadi persoalannya bukan Islam dan non Islam. Orang non Islam yang senang pada Islam juga banyak, sebaliknya orang Islam yang tidak Islamis juga banyak. Justru kadang-kadang kelemahan kita dalam melakukan penilaian selalu bertolak-belakang dari Islam dan non Islam. Bagaimanapun juga mereka tidak memiliki kekuasaan apa-apa kalau tidak diberi wewenang. Jadi persoalannya kelembagaan, yang bekerja bukan hanya dia tetapi sebuah tim besar. Banyak polisi yang Islamnya bagus, tetapi persoalannya adalah dalam rangka pengamanan lembaga negara.

Jadi muaranya tertuju pada Presiden ?

Muaranya pada misi dari sebuah nation yang ditafsirkan pemerintah. Semestinya yang bertanggungjawab adalah pemerintah, bukan polisi.

Bagaimana pandangan Anda mengenai Program Deradikalisasi yang digerakkan BNPT ?

Saya jelas tidak setuju, dalam arti titik tolaknya darimana. Persoalan radikal dan tidak radikal akan dipahami dari konteks pengetahuan dan sikap radikal karena apa. Dalam UU Politik ada persoalan yang dinyatakan radikal. Jadi sikap radikal itu bukan persoalan orang itu radikal atau tidak radikal, tetapi dibangun oleh pengetahuan terhadap perkembangan nasional dan internasional serta rasa kesadaran akan ketidakadilan. Misalnya, pemerintah dalam mengatasi persoalan dianggap tidak adil, maka ini yang membentuk sikap radikal.

Jadi persoalan deradikalisasi semestinya berkaitan dengan bagaimana pemerintah mencoba untuk melaksanakan tujuan pemerintahan mengenai keadilan, kesejahteraan rakyat, menegakkan kebenaran, menegakkan hukum dan sebagainya. Pada saat sekarang telah terjadi kesenjangan yang tajam, mengenai pandangan pemerintah dan sikap yang dimiliki kelompok Islam dan non Islam serta hubungan antar mereka. Kesenjangan itu dipengaruhi informasi yang dimiliki dan perubahan sosial yang tinggi. Hal itu menyebabkan ketajaman hubungan karena terjadinya revolusi kebudayaan, dimana di Indonesia terjadi pada saat era reformasi sekarang. Itu yang menimbulkan persoalan dan tidak diantisipasi dengan program politik yang sistematik. Berbeda dengan Korea Selatan, sudah diantisipasi sejak awal bagaimana mengatur anak-anak main games. Tetapi disini tidak dan ini yang menjadi masalah. Jadi persoalan radikal dan tidak radikal adalah persoalan proses yang dialami oleh warga negara dalam kehidupan bermasyarakat akibat adanya kesenjangan tertentu.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai rencana BNPT yang dipimpin Ansyaad Mbai untuk melakukan Sertifikasi Ulama ?

Saya kira itu tidak tepat, sertifikasi untuk apa ? Memang salah satu problem di kalangan ulama, da’i dan mubaligh adalah dalam menghadapi persoalan dimana banyak sekali pengajian yamg diberikan kelompok muda tamatan pesantren kilat. Hal ini juga terjadi di kalangan Kristen yang diberikan kelompok muda tamatan kursus Injil. Dalam memberikan ceramah, mereka belum sampai pada tingkat dengan wawasan luas, kemudian berceramah dengan sikap fanatik, dimana akhirnya menimbulkan hasil kontra produktif. Di kalangan pemuda Kristen yang fanatik juga banyak sekali dan saya mendapat laporan ini dari salah seorang pimpinan Univeristas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah. Jadi yang terdapat kelompok fanatik bukan hanya Islam saja tetapi juga Kristen. Tetapi masalahnya Islam di Indonesia mayoritas mutlak sehingga yang menonjol fanatismenya adalah Islam, padahal di Kristen juga banyak sekali yang fanatik dan fundamentalis. Fanatisme akibat itu semestinya dibicarakan dan diatasi masing-masing agama.

Apakah Sertifikasi Ulama yang akan dilakukan BNPT merupakan penghinan terhadap ulama ?

Saya kira itu tidak ada artinya. Sertifikasi biasanya pada program fungsional yang bersifat karier. Kalau ulama kan bukan jabatan karier. Sekarang persoalannya bagaimana strategi untuk menghadapi ekses-ekses itu.

Kembali ke terorisme, apakah operasi pemberantasan teroris yang digerakkan BNPT dan Densus memang proyek yang menguntungkan, dimana semakin banyak teroris yang berkeliaran maka semakin membuat kantong mereka tebal ?

Dulunya operasi semacam ini dilakukan militer dan intelijen. Jadi operasi anti terorisme bagi polisi adalah hal baru. Sekarang yang menjadi persoalan adalah bagaimana meningkatkan kinerja polisi agar menjadi lebih professional. Tetapi bukan berarti saya mengatakan kalau polisi sekarang tidak profesional dalam menanggani kasus terorisme. Namun berdasarkan kasus yang ada, seharusnya polisi meningkatkan profesionalismenya, sehingga tidak sering melakukan kesalahan target atau sasaran. Polisi juga perlu meningkatkan pemahaman terhadap penegakan hukum dan perlindungan HAM. Selain itu persoalan terorisme seharusnya dikaji dari persoalan yang lebih tinggi, bukan hanya linier.

Bagimana Anda melihat kasus penembakan mati terhadap terduga dua teroris oleh Densus di Solo baru-baru ini ?

Saya melihatnya itu operasi intelijen, bukan terorisme. Perkara kemudian dikaitkan dengan terorisme, itu bisa saja. Karena dalam operasi itu digunakan orang yang mau. Bedanya, operasi intelijen dimaksudkan untuk menciptakan suatu keadaan, tetapi kalau terorisme menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi suatu kebijakan. Banyak sekali kasus terorisme, tetapi kalau dilihat dari ilmu pengetahuan tentang terorisme, sesungguhnya bukan terorisme.

Kasus di Solo itu jelas merupakan operasi intelijen, jika dilihat dari sifat-sifatnya. Karena sekarang proyek yang paling laku dijual ya terorisme. Seorang teroris tidak mungkin mengaku dirinya sebagai teroris. Juga tidak mungkin teroris berkali-kali nongkrong pada satu tempat. Kalau teroris, begitu mengebom tidak akan kembali lagi ke tempat itu sampai puluhan tahun. Karena itu kita harus memperjelas, apa terorisme itu. Jangan sampai mendefinisikan terorisme dengan pola-pola kriminal. Sekarang yang terjadi di Indonesia, melihat terorisme sebagai pergerakan kriminal. Masak teroris hanya nongkrong disitu-situ saja, tidak berpindah-pindah tempat. Seharusnya teroris tidak seperti itu, karena konsekuensinya mati. Saya kira terorisme sebagai suatu cara untuk mengalihkan isu. Sebab kalau ada persoalan yang muncul di pemerintahan, maka untuk mengalihkan isu muncullah operasi pemberantasan terorisme. Kalau sudah begitu, semua media massa pasti akan melupakannya dan mengarahkannya kesana.

Kalau kasus penembakan mati dua orang terduga teroris di Solo, untuk mengalihkan isu yang mana di pemerintahan SBY ?

Kita lihat dari kategorinya, seperti kasus M Thoriq di Tambora, Jakarta. M Thoriq sudah diamati sejak setahun lalu, tetapi mereka baru menangkapnya pada saat diperlukan untuk mengalihkan isu. Seperti kasus Solo, adanya pemberitaan seorang anggota Densus yang mati tertembak tidak sebagaimana yang saya peroleh kabarnya. Juga kasus polisi yang tertembak di Prembun Purworejo beberapa waktu lalu. Kabarnya tertembaknya polisi tersebut hanya karena rebutan wanita, tetapi kemudian dikabarkan karena ditembak teroris. Waktu itu saya sudah protes pada salah seorang pejabat kepolisian di Polda Jateng, tetapi katanya sudah dilaporkan kasus yang sebenarnya ke Mabes Polri, tetapi ketika sampai di Jakarta ceriteranya jadi berubah menjadi kasus terorisme.

Banyaknya kasus terorisme, apa memang tujuannya untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia yang mayoritas ?


Persoalannya bukan umat Islam. Persoalannya kasus terorisme bisa digunakan untuk berbagai kepentingan. Seperti kepentingan untuk mengalihkan perhatian, peningkatan program sehingga mendapat dana yang besar, agar kinerjanya terlihat efektif dan sebagainya. Jadi kebetulan saja mereka latar belakangnya beragama Islam.

Mengapa setiap menjelang kedatangan pejabat tinggi AS ke Indonesia, selalu muncul kasus terorisme, seperti baru-baru ini menjelang kedatangan Menlu Hillary Clinton ?

Kalau itu bisa saja penafsiran-penafsiran, tetapi benar dan tidaknya kita tidak tahu. Karena dalam kasus terorisme di Indonesia sering kali terjadi kekurangan data, maka perlu dibuat data baru, sehingga dalam berbagai kasus terjadi seperti itu.

Bagaimana menurut Anda, sikap umat Islam Indonesia dalam menghadapi kasus terorisme yang sering terjadi ?

Pertama, media massa tidak memberitakan tentang terorisme dan penyelesaiannya. Kedua, umat Islam sebaiknya bersikap tidak reaktif. Sebab kalau bersikap reaktif maka ibarat paling enak dioper bola, pasti akan memburu. Jadi begitu ada isu terorisme muncul, pasti ada masalah yang sangat kritis di pemerintahan. Jadi sepertinya umat Islam tidak terkendali dan paling mudah dioper bola agar memburunya. Ketiga, umat Islam perlu mengetahui berbagai informasi strategis.

Sebab salah satu permasalahan yang dihadapi umat Islam Indonesia sehingga mudah menjadi radikal adalah karena membaca buku-buku terjemahan dari luar yang sangat berbeda dengan kondisi dan situasi di Indonesia. Pasalnya, ketika agama jauh dari kajian kebudayaan, maka akan cenderung radikal. Sebaliknya, tatkala agama dikembangkan atas dasar pergulatan antara masyarakatnya dengan kebudayaan, maka akan cenderung tidak radikal, sebagaimana dakwah yang dikembangkan para Wali Songo dengan melalui pendekatan kebudayaan.

Abdul Halim